PKS Menerima Obama, Amien Tolak Kedatangannya
OLEH: ARIEF TURATNO
BANYAK orang bertanya-tanya tentang sikap controversial dari para politisi kita berkaitan dengan rencana kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Husein Obama ke Indonesia. Misalnya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah partai yang selama ini dinilai konsisten memperjuangkan Islam dan tidak jarang demi membela hak-hak rakyat Palestina, partai tersebut berdemo terhadap Israel dan AS. Namun yang mengherankan dalam kunjungan Presiden Obama Maret ini, PKS menerima, sebaliknya mantan Ketua Umum DPP PAN, Amien Rais malah menolak. Pertanyaan dan persoalannya adalah ada apa dengan sikap-sikap yang membingungkan semacam itu?
Seperti diberitakan, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaq menyatakan, PKS mendukung kehadiran Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama ke Indonesia. "Kehadirannya sebagai tamu negara. Kita welcome. Kita pun mendukung saling kesepahaman antara Indonesia dan AS, untuk menuju Indonesia yang lebih baik," tandasnya di kantor DPW PKS di Bandarlampung, Minggu (14/3).
Sebelumnya, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Samsuddin menyatakan pihaknya menyambut kedatangan Presiden Obama. Namun, tidak lama setelah pernyataan Din, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah yang juga mantan Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais menyatakan menolak kedatangan Obama. Ada beberapa alasan, mengapa Amien menolak Presiden AS berkulit hitam tersebut, antara lain karena sikap Obama terhadap dunia Islam tidak jauh berbeda dengan para pendahulunya. Obama dinilai Amien tetap meneruskan kebijakan Presiden AS pendahulunya yang banyak merugikan umat Islam dunia.
Pertanyaannya adalah apakah sikap Amien tersebut tulus, lahir batin menyuarakan kepentngan nuraninya ataukah tidak? Terus terang, kita susah menjawabnya. Sebab ada beberapa hal yang kita patut pertanyakan dari sikap Amien tersebut, antara lain mengapa sikapnya itu tidak didukung oleh partai yang pernah didirikannya, yakni PAN? Sebab Ketua Umum DPP PAN Hatta Radjasa menyatakan menyambut baik kedatangan Obama. Juga mengapa sikap Amien sepertinya tidak berbekas di PP Muhammadiyah, karena organisasi tersebut menyatakan menerima kedatangan orang nomor satu AS itu. Lantas politik apa yang sedang dimainkan Amien?
Sebagai politisi kawakan, Amien nampaknya paham betul sikap apa yang harus diambil berkaitan momentum kedatangan Obama. Dia tahu betul bahwa partai yang didirikannya tersebut dalam keadaan kritis, setelah PAN mengambil sikap mendukung Partai Demokrat dalam kasus bail out Bank Century. Karena sikap yang dianggap tidak pro rakyat itulah, maka banyak pengamat menilai PAN bakal hancur alias ditinggalkan konstituennya pada Pemilu 2014. Dan PAN pun dinilai Amien tidak mampu mengambil simpati public berkaitan dengan kedatangan Obama ke Jakarta. Karena itulah Amien bergerak “sendiri” menyatakan menolak kedatangan Presiden AS itu. Dengan asumsi, akan ada banyak simpatisan PAN yang melihat sikapnya tersebut, dan suatu ketika mau kembali kepada partai bilamana dibutuhkan.
Sementara PKS mesti mengambil keputusan yang cerdas berkaitan dengan kunjungan Obama. Hal itu harus mereka lakukan untuk menghilangkan kesan bahwa PKS identik dengan Taliban. Oleh karena itu PKS senang atau tidak, mau atau tidak, harus menyatakan menerima Obama. Karena itu kita pun tidak perlu heran, jika PKS menerima kunjungan Obama ke Indonesia. Sikap semacam itu dari tinjauan politik dapat dibenarkan. Meskipun barangkali cukup mengecewakan bagi publik yang menerima dan memahami politik secara hitam putih. (*)
Senin, 15/03/2010 | 11:43 WIB, oleh Arya Kusuma
Senin, 15/03/2010 | 10:38 WIB, oleh Garda Pancasila Indonesia
http://www.petitiononline.com/cgi-bin/create_petition.cgi?petisi45
Petition of PANCASILA to President Barrack Obama
Most happiness for us, the nation of Indonesia, that one of the former citizen of Jakarta, Indonesia, has been elected successfully as the President of the United States of America, and would be most happiness for all the nations of the world if PANCASILA as the essentials of the civilization of Indonesia since the continent of Atlantis thousands years ago which then always becomes the torch for the tenet of the mother of civilization towards peacefull of the world living societies that specified by Believe in God, Humanity, Nationalism, Democracy, Social Justice, as stating by one of our greatest leader, President Soekarno in the 15th General Assembly of the United Nations on September 30th, 1960, titled as To Build The World Anew.
Those five principles of the State of Indonesia are recoqnized can be pressed as TRISILA or three principles, which is specified as Believe in God, Socio Nationalism and Socio Democracy, which is specified further as EKASILA or GOTONG ROYONG or Cooperationship, which is most dynamically than brotherhood and fraternally.
Indeed we understand that the situation and conditions of Cold War that time was driven by the political of imperialism and colonialism thru occupation based on the superiority of military power which is still being relevant and therefore requiring beware of today and future development, moreover in the post Cold War which is indentified much more sophisticated by the driving of political of newly occupation based on economic power.
It is our deep understanding that President Soekarno was stating that time that political of imperialism and colonialism were not relevant anymore to develop, considering the history of the rising independency and the sovereignty of the emerging forces of the third world of nation states since year 1945, are for the development of the world anew towards better worldwide balance of power, considering the increasing of revolution of demands and not the increasing of revolution of hopes.
Therefore, we deeply recommend to the President of the United States of America, as one of the world leader today to sustain PANCASILA towards opening keep away the road to the only disuse of arm in the heart of human being, to destroy distrust, hasty and greedy, towards truth and welfare of body and soul, and strengthening the resiliency of nation states all over the world.
Jakarta, February 13th, 2010
GARDA PANCASILA INDONESIA / GAPI
(The Indonesian Guard of PANCASILA),
(1) Pandji R Hadinoto, (2) Soenardi, (3) Yanti, (4) Yusweri, (5) Yasman Anas, (6) Yahman Romli, (7) Kartono Tohpati, (8) Ikhsan Sudaryanto, (9) Permadi.
| Komentar ke : 1 - 2 | Total : 2 | Halaman : |


