
Solo - Ustadz Abu Bakar Ba'asyir menduga gencarnya operasi teroris menyusul tertembaknya Dulmatin adalah untuk mengalihkan isu skandal Bank Centuryyang kini menggoyang Presiden SBY. Sebaliknya, ia enggan menjawab spekulasi bahwa penangkapan besar-besaran yang dilakukan polisi terhadap orang-orang yang diduga melakukan tindak kekerasan bersenjata adalah berhubungan dengan rencana kedatangan Presiden AS Barack Obama.
"Itu dugaan. Saya tidak mau memberikan pernyataan sehubungan dengan dugaan seperti itu karena tidak ada bukti yang bisa dijadikan bahan pertimbangan. Saya lebih cenderung memperkirakan operasi besar-besaran ini untuk mengalihkan isu skandal Century," tegas Ba'asyir kepada wartawan di kediamannya di Kompleks Pesantren Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Jumat (12/3/2010).
Abu Bakar Ba'asyir menilai, penangkapan Dulmatin oleh aparat pemerintah Indonesia sebagai sebuah tindakan yang wajar karena dia dinilai melanggar undang-undang negara. Namun Ba'asyir merasa perlu mengoreksi sebutan teroris yang dilekatkan pada Dulmatin.
"Dia ditangkap karena melanggar undang-undang negara. Itu wajar, sesuai penilaian pemerintah. Yang tidak boleh dibiarkan adalah menyebutnya sebagai teroris, karena dia adalah seorang pejuang Islam meskipun mungkin langkah yang ditempuhnya tentang penggunaan kekerasan yang dia lakukan di area damai memang perlu dikoreksi," kata Ba'asyir.
Perihal penangkapan yang dilakukan polisi dengan cara melakukan tembak mati di tempat, menurut Ba'asyir, hanyalah masalah teknis polisi dalam melumpuhkan target. "Polisi bisa saja berkilah, penembakan dilakukan karena target melawan dengan senjata api sehingga perlu dilumpuhkan dengan tembakan," imbuhnya.
Aceh Memanas, Wakil Ketua MPR Temui Ba'asyir
Wakil Ketua MPR, Ahmad Farhan Hamid, menemui Abu Bakar Ba'asyir di Pesantren Al-Mukmin, Ngruki Sukoharjo. Meskipun mengaku hanya bersilaturahmi informal, namun politisi asal Aceh tersebut tidak mengelak ketika kedatangannya dihubungkan dengan situasi yang memanas pascapenggerebekan markas latihan milisi.
Farhan datang ke Ngruki diantar oleh Fauzan Al-Anshari, salah seorang pengurus pusat Jamaah Anshorut Tauhid, Jumat (12/3/2010). Farhan datang langsung menuju ke rumah pribadi Ba'asyir di kompleks pesantren Ngruki. Kedatangannya juga tidak ditemui atau disambut oleh pengurus pesantren.
Kedatangan Farhan bersamaan dengan puluhan wartawan yang sebelumnya memang telah ada janji wawancara dengan Ba'asyir. Selanjutnya dia dengan tekun menyimak wawancara wartawan dengan tuan rumah. "Kebutuhan wartawan memang harus didahulukan," ujarnya santai.
Ketika ditanya keperluannya menemui Ba'asyir, Farhan hanya mengatakan bersilaturahmi biasa. "Saya baru tiba di Solo pagi ini. Sengaja datang untuk bertemu Ustadz Abu Bakar Ba'asyir. Tapi hanya untuk silaturahmi saja," kata Farhan.
Namun politisi Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut hanya tersenyum lebar ketika ditanya apakah kedatangannya berhubungan dengan situasi Aceh yang memanas pasca penggrebekan markas latihan milisi di kawasan serambi Mekah tersebut.
Setelah wartawan usai wawancara, Farhan yang ditemani dua stafnya baru menyempatkan untuk berbicara dengan Ba'asyir yang ditemani olah beberapa kerabat. Bahkan, dalam kesempatan tersebut, kepada Ba'asyir, Farhan juga mengenalkan dirinya sebagai cucu dari kerabat dekat Daud Buerueh, tokoh DI/TII asal Aceh.
Kepada wartawan, Fauzan Al-Anshari mengatakan tidak mengetahui secara pasti agenda kedatangan Farhan menemui Ba'asyir. Dia hanya mengatakan bahwa dia dihubungi Farhan untuk mengantar ke Solo menemui Ba'asyir. (*/dtc/jpc)


