
Boediono, "Malu Tak Gentar!"
KRISIS kepemimpinan di Indonesia bukan saja terlihat dari maraknya isu korupsi yang hinggap di para pejabat tetapi juga nampak di moralitas para pemimpin. Para pemimpin tak malu untuk terus mempertahankan jabatannya walau ia sudah diduga melakukan kesalahan fatal yang merugikan masyarakat banyak. Mantan Ketua Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif menilai Indonesia saat ini mengalami krisis kepemimpinan. Negeri ini pun, menurutnya, seperti kampung yang tidak punya pemimpin.
Krisis moralitas pemimpin tersebut misalnya terlihat dari sikap Boediono, dan juga Sri Mulyani, yang enggan melepaskan jabatannya. Sementara itu, masyarakat Indonesia sudah “tidak percaya” lagi terhadapnya. Selain itu, DPR juga sudah memutuskan bahwa Boediono dan Sri Mulyani diduga bersalah dalam penanganan bailout Century. Karena kelalaian Boediono dan Sri Mulyani tersebut, tak henti-hentinya mahasiswa dan juga elemen masyarakat lainnya mendesak kedua orang tersebut untuk mundur. Tetapi desakan tersebut hanya dianggap angin lewat oleh kedua pembuat kebijakan bailout Century tersebut.
Aktivis KOMPAK Ray Rangkuti menegaskan sikap moral Boediono yang tak mau mundur dari jabatannya walau telah diduga melakukan pelanggaran perundang-undangan dalam proses bailout Century adalah perwujudan dari krisis moralitas kepemimpinan. Seharusnya, Boediono harus rela meletakkan jabatannya karena ada dugaan pelanggaran kebijakan yang merugikan masyarakat Indonesia.
Ray Rangkuti malah melihat sikap sebaliknya dari Boediono. Ia melihat bahwa Boediono ketika melakukan kesalahan bukan mundur tetapi malah maju terus. Sebab itu falsafah Boediono saat ini bukan “maju tak gentar” melainkan “malu tak gentar”. Sikap malu tak gentar tersebut, menurut aktivis 1998 ini, sangat jauh berbeda dengan falsafah bangsa Jepang yang melakukan bunuh diri bila melakukan kesalahan atau kekalahan yang memalukan.
“Dalam pandangan Boediono nampaknya sikap falsafah bangsa Jepang yang bunuh diri ketika melakukan kesalahan adalah keliru. Boediono nampaknya menilai bila melakukan kesalahan bukan bunuh diri tetapi maju terus pantang mundur," ujarnya saat diskusi di Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (11/3).
Di tempat terpisah, senada dengan Ray Rangkuti, aktivis GD 77-78 M. Hatta Taliwang juga mempertanyakan tradisi kesantunan politik yang sedang dibangun oleh para pemimpin saat ini. Menurutnya, para pemimpin Indonesia saat ini seharusnya belajar dari para pemimpin luar negeri yang dengan sukarela mundur dari jabatannya bila melakukan kesalahan.
“Kecelakaan KA di Jepang, Menterinya mundur. Buruh demo di Korsel, menterinya sedang bermain Golf, akhirnya menteri tersebut mundur. Habibie ditolak pertanggungjawabannya oleh MPR, meskipun ada peluang menang bila ikut pilpres, tetapi ia tetap tak mau ikut berkompetisi. Itulah sebenarnya etika dan moralitas pemimpin,” ujarnya. Sebab itu ia pun bertanya, tradisi kesantunan politik macam apa yang dibangun? Pemimpin jenis apa yang sedang menguasai negeri ini? (Boy M)


