Isu Teroris Bagian dari Grand Strategi Naikkan Citra SBY?
OLEH: ARIEF TURATNO
ADA hal yang menarik yang menjadi catatan khusus masyarakat, bahwa setiap terjadi kasus yang memojokan pemerintah, muncul isu teroris. Misalnya, ketika media tengah ramai-ramainya membicarakan kasus yang menimpa besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yakni Aulia T Pohan. Tiba-tiba muncul kasus seru yakni bom Kuningan (Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott). Dan munculah tokoh teroris Syaifuddin Zuhri, Ibrohim dan lain-lain.
Sekarang ketika media dan public tengah focus kepada kalanjutan kasus hukum bail out Bank Century yang arahnya sudah mendekati istana. Mendadak muncul isu teroris yang diawali peristiwa penggerebakan teroris di Kabupaten Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Yang kemudian dilanjutkan dengan penggrebekan kelompok teroris di Tangerang, Banten. Yakni di Jalan Siliwangi dan Jalan Setiabudi, dengan akibatnya tewasnya tiga anggota teroris.
Pertanyaan dan persoalannya adalah apakah benar isu-isu tersebut ada mata rantai dengan kasus lain?Juga apakah benar bahwa isu pemberantasan teroris merupakan bagian dari penaikan citra Presiden SBY yang semakin memburuk akibat kasus bail out Bank Century? Diakui atau tidak, belakangan ini memang citra SBY di mata public semakin anjlok. Bahkan ada lembaga survey yang berani meyakinkan bahwa kalau diadakan Pemilihan Presiden (Pilpres) sekarang kemungkinan besar SBY akan kalah telak.
Dengan asumsi semacam itu sehingga sangatlah wajar, jika ada keinginan SBY, atau para penasehat politiknya untuk menaikan citra dirinya. Salah satu entry point ke arah itu adalah dengan isu perang terhadap terorisme. Dengan keberhasilan meporak-porandakan sarang teroris di Kabipaten Aceh Besar, NAD. Dan disusul dengan keberhasilan Densus 88 menyergap anggota teroris di Tangerang. Bahkan tiga orang diantaranya ditembak mati. Ini mengindikasikan adanya sukses besar yang diraih pemerintahan pimpinan SBY dalam upaya pemberantasan teroris. Terlebih jika benar, yang tewas adalah salah satu gembong teroris Dulmatin.
Pencitraan diri lainnya yang hendak dicapai atau diraih SBY adalah dengan adanya kesempatan yang diberikan parlemen Australia. Kesempatan semacam itu jelas sangat langka karenanya pasti akan digunakan sebaik mungkin oleh SBY untuk mengembalikan citra dirinya dihadapan Negara tetangga, seperti Australia dan lainnya. Disanping membangun citra diri keluar, SBY juga tengah membangun citra diri di dalam negeri. Kali ini yang menjadi target atau sasaran dari grand strategi pencitraan diri SBY tersebut adalah wong cilik, masyarakat kecil. Yakni dengan pemberian bantuan—semacam bea siswa---bagi pelajar kalangan tidak mampu. Dan program ini telah dilaksanakan dengan gencar belakangan ini.
Jika grand strategi tersebut dapat berjalan mulus. Maka andaikan pun masalah Bank Century sampai menyerempet ke Istana, dan dilakukan referendum. Mungkin saja, kembali SBY yang akan menang. Bahkan jika parlemen atau DPR tetap bersikukuh untuk memakzulkan SBY karena kasus bail out tersebut. Bukan mustahil, DPR bakal berhadapan dengan rakyat. Dan inilah yang tidak pernah dipikirkan dan dilakukan para lawan politik SBY. Mereka hanya focus menggarap persoalan yang ada. Sementara mereka tidak memiliki pendukung yang kuat, yakni rakyat. Sebab mereka—para lawan politik SBY---lupa menggarap rakyat. Inilah kekeliruan mendasar yang terus diulang sampai sekarang. (*)
Jumat, 12/03/2010 | 09:53 WIB, oleh alex
| Komentar ke : 1 - 1 | Total : 1 | Halaman : |


