
Makna Ketok Palu Ketua DPR Marzuki Alie
SIDANG Paripurna DPR hari ini diwarnai kericuhan. Pimpinan DPR Marzuki Ali pun akhirnya diungsikan dari ruang sidang. Sementara itu, beberapa anggota dewan menyerbu podium dan meja pimpinan sidang. Kericuhan tersebut terjadi terutama sesaat setelah Ketua DPR Marzuki Alie tiba-tiba mengetok palu menutup sidang paripurna yang menegaskan bahwa paripurna DPR hari ini hanya mendengar kesimpulan dan rekomendasi dari Pansus Century. Sementara itu sejumlah anggota tidak terima, dan mereka meminta agar sidang dilanjutkan, mereka pun menyerbu hingga naik ke podium atas pimpinan sidang.
Sikap Pemimpin sidang paripurna DPR Marzuki Alie tersebut mendapat kecaman dari sejumlah anggota DPR. Politisi Partai Demokrat (PD) itu dinilai tidak matang dan tidak bijak dalam menghadapi aspirasi anggota yang lain. Sikap Marzuki Ali tersebut misalnya sangat disayangkan oleh Fachri Hamzah, anggota DPR dari fraksi PKS, “Pak Marzuki harus tanya kanan kiri dulu sebelum menutup sidang, jangan diputuskan sepihak”, ujar anggota pansus Century tersebut.
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Pramono Anung, juga menyayangkan sikap Ketua DPR Marzuki Alis yang menutup sidang paripurna sendiri. Pramono, seperti halnya tiga Wakil Ketua DPR lainnya, tidak dimintai konsultasi. "Saya sendiri terkejut, Marzuki Alie mengetok palu tanpa konsultasi dulu," ujar politisi PDI-P ini.
Sementara itu, Mahfud Sidiq, menilai seharusnya Marzuki Ali memberikan kesempatan kepada semua anggota untuk berbicara. “Apa salahnya sih memberikan kesempatan berbicara kepada anggota dewan yang interupsi” ujarnya. Sebab itu menurutnya, ketok palu Marzuki Ali yang tiba-tiba menutup sidang paripurna tersebut dinilai tidak bijak.
Apa makna ketok palu Marzuki Alie tersebut? Protes dan interupsi para anggota dewan pasca pembacaan kesimpulan pansus Century oleh Idrus Marham berkutat seputar tuntutan atas sidang paripurna yang seharusnya dilakukan satu hari. Sebab itu, Bambang Soesatyo misalnya, berinterupsi kepada pimpinan dewan dan meminta agar hari ini juga DPR mengambil kesimpulan. Sementara itu, Demokrat nampaknya tetap ngotot agar paripurna tersebut dilakukan 2 hari.
Ketok palu Ketua DPR Marzuki Alie tersebut menunjukkan bahwa ia tetap ingin sidang Paripurna Century tetap digelar dua hari. Ia menilai anggota pansus harus memenuhi kesepakatan Bamus yang menetapkan bahwa paripurna dijalani 2 hari. Kini, persoalan 1 atau 2 hari ini ternyata menjadi isu penting dan menjadi faktor pemicu kerusuhan anggota DPR. Sebelumnya, berbagai fraksi, Gokar dan Hanura misalnya, menolak dan mempertanyakan pelaksanaan paripurna Pansus Century digelar dua hari.
Berkenaan dengan 2 hari sidang paripurna tersebut, terdengar isu bahwa Demokrat sengaja memang ingin mengulur waktu agar lobi-lobi politik bisa intensif dilakukan. Demokrat berkesempatan untuk melobi sejumlah partai-partai yang masih ragu karena konstelasi politik masih sangat cair. Menurut pengamat politik dan Peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi, sidang paripurna dilaksanakan 2 hari merupakan langkah kemenangan Demokrat. Apalagi, bila di rapat paripurna nanti dijalankan mekanisme tertutup.
Melihat situasi politik tersebut, tentu ketok palu Ketua DPR Marzuki Alie nampaknya memiliki korelasi dengan kepentingan partai Demokrat yang menginginkan paripurna digelar 2 hari. Ketok palu tersebut, walaupun memunculkan kericuhan, sepertinya bisa menghentikkan laju penuntasan kasus Century ini untuk sementara waktu. Tetapi ketok palu tersebut tentu bukanlah sikap Ketua DPR yang bijaksana sebab sejatinya, sebagai ketua DPR, ia mampu menampung semua aspirasi anggota dewan, entah partai manapun. Ketok palu tersebut nampaknya bentuk pasang badan Marzuki Alie untuk Demokrat. (Boy M)


