Bookmark and Share
ilmci
Berita Terkait
moreBerita Lainnya
frenbook
Mungkinkah Demokrat Dukung Prabowo jadi Capres 2014?
lokasi: Home / Berita / Analisa / [sumber: Jakartapress.com]
Sabtu, 27/02/2010 | 01:29 WIB
Mungkinkah Demokrat Dukung Prabowo jadi Capres 2014?

Mungkinkah Demokrat Dukung Prabowo jadi Capres 2014?

Oleh: Tubagus Januar Soemawinata (Universitas Nasional)

MUNGKINKAH mantan Danjen Kopassus Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto maju menjadi calon presiden (capres) pada Pilpres 2014 akan didukung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Demokrat? Mungkin saja! Kalau didukung PDIP sudah jelas, karena kabarnya sudah ada deal pada Pilpres 2009 lalu bahwa Prabowo mau menjadi calon wakil presiden (cawapres) pendamping Megawati Soekarnoputri dengan kesepakatan PDIP bakal mendukung Prabowo menjadi capres pada Pilpres 2009 dengan antara lain menggandeng Puan Maharani sebagai cawapresnya.

Namun, apa iya Partai Demokrat akan mendukung majunya Prabowo sebagai capres mendatang dengan imbalan sikap Partai Gerindra di Pansus Century harus ‘manut’ pada kehendak SBY dan sekutunya? Mungkin saja Partai Demokrat ikut mendukung pencalonan Prabowo pada Pilpres 2014 karena SBY sudah dua periode menjadi presiden, sehingga bilamana maju mencalonkan kembali hanya bisa jika mengamandemen dulu pasal UUD 45. Sedangkan kabar akan majunya Ani Yudhoyono (istri SBY) sebagai capres, nampaknya masih belum jelas peluangnya. Terlebih lagi apabila perolehan suara Partai Demokrat menyusut kusut pada Pemilu 2014 akibat dugaan terlibat kasus aliran dana bailout Bank Century terbukti.

Soal Fraksi Partai Gerindra di Pansus Century DPR tidak menyebut nama, sudah diduga oleh pengamat politik Universitas Iindonesia (UI) Bonni Hargens. Bonni mengaku sudah curiga bahwa Gerindra tidak akan menyebut nama dalam pandangan akhirnya di Pansus. Menurut Bonni, hal itu terjadi karena ada kepentingan lain dari Gerindra di balik deal-deal yang diberikan Partai Demokrat kepada Gerindra. "Meski Gerindra menyatakan menyebut orang dan menyebut jabatan sama saja, menurut saya tetap beda ketika menegaskan nama seperti yang disampaikan oleh PDIP Cs," tandas Bonni seperti dimuat sebuah harian ibukota.

Dalam pandangan Bonni, kalau sekadar menyebut jabatan, bisa saja yang bertanggungjawab adalah anak buah Sri Mulyani atau anak buah Boediono. "Saya rasa, ini demi kepentingan 2014. Apakah ini ada deal agar Prabowo diusung sebagai capres oleh Demokrat," duga pengamat politik dari UI ini. Namun, dugaan Bonni Hargens tersebut dibantah oleh Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani yang juga anggota Pansus Century. Menurut Muzani, Fraksi Gerindra tidak menyebut nama semata-mata karena alasan etika. “Kasihan keluarganya, belum apa-apa sudah disebutkan namanya. Ini etika saja. Tidak ada deal dengan Demokrat. Terlalu kalau ada yang menilai begitu. Komentar seperti itu namanya sok tahu,” kilah Muzani.

Sedangkan kabar di luaran berembus, bahwa Presiden telah menyiapkan langkah antisipasi jika Golkar-PKS menarik diri dari barisan koalisi, maka penggantinya adalah Geridnra. Bahkan, anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Permadi SH mengaku menerima bocoran bahwa Partainya sudah ditawari tiga kursi menteri oleh SBY. Salah satunya kursi menteri itu untuk Prabowo. ”Tapi belum deal, nanti kita lihatlah,” elak Permadi, Rabu lalu. Namun, pakar paranormal ini memperkirakan Gerindra akan menolak tawaran dari pihak Istana tersebut. Karena kalau diterima, dampaknya akan berat bagi Gerindra dan citra Prabowo akan anjlok. “Kalau Prabowo menerima tawaran itu, Wiranto dan Megawati juga akan menjauhinya,” imbuh Permadi.

Memang antara Prabowo dan SBY ada jalinan sesama alumni di Akademi Militer, yakni Prabowo angkatan 1974 dan SBY angkatan 1973. Namun, apakah apakah kedatangan Prabowo menjenguk ibunda SBY yang sedang sakit di RSPAD pada Rabu (24/2) sore, ada korelasinya dengan tawaran Partainya SBY atau hanya sebatas kedekatan sesama teman di Akmil, belum jelas kepastiannya. Atau mendekatnya Prabowo ke SBY karena dimaksudkan agar dugaan terlibatnya Muchdi (wakil ketua umum DPP Gerindra) dalam kasus pembunuhan Munir tidak diungkit-ungkit lagi meski sudah ada ketetapan hukum yang membebaskan mantan Danjen Kopassus itu. Satu lagi kebanggaan Prabowo adalah bekas teman dekatnya yaitu Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin diberi jabatan Wakil Menteri Pertahanan oleh SBY.

Mudah-mudahan kedekatan dan mendekatnya Prabowo ke SBY belakangan ini bukan karena ada 'bargaining' menjelang digelarnya sidang paripurna DPR untuk membahas hasil kesimpulan akhir Pansus Century. Tapi nampaknya, hampir pasti deal atau dagang sapi tidak akan dilakukan oleh Prabowo apabila melihat pernyataan-pernyataan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra ini yang keras dan tegas serta cenderung beroposisi terhadap rezim penguasa saat ini dalam kampanye Pemilu maupun Pilpres 2009 lalu. Ini pertanda bahwa putra mendiang begawan ekonomi Prof Soemitro Djojohadikusumo tersebut tidak akan mudah ditaklukkan oleh Partai Demokrat hanya sekedar diberi imbalan jabatan, apalagi hanya kursi menteri. Tapi apakah mantan Pangkostrad itu akan disodorkan namanya ke MPR oleh SBY sebagai antisipasi manakala kesimpulan Pansus mengarah pada pemakzulan Wakil Presiden Boediono? Kita tunggu saja kebenarannya dalam waktu dekat!

Bagi SBY, nampaknya Prabowo lebih jelas sikap politiknya, bicara apa adanya dan tidak pernah bermain di tikungan alias menggunting dalam lipatan atau menohok kawan seiring, dan bahkan tidak mencerminkan memiliki sikap ‘api dalam sekam’ terhadap SBY. Lain halnya dengan sejumlah elit parpol koalisi yang sikap politiknya masih abu-abu dan bahkan ada ‘pemain’ lama sehingga mungkin saja siap menerkam SBY sendiri di suatu saat apabila memang ada kesempatan untuk melakukan hal itu, apabila dijadikan Wapres pendamping SBY.

Lihat saja permainan politik Akbar Tandjung ketika dulu “berhadapan” dengan Wiranto, lalu ikut melengserkan Wapres Habibie, atau terkahir pada mulanya ia gencar merapat ke SBY tetapi belakangan pentolan Golkar ini meminta Pansus Century untuk bersikap tidak sama dengan koalisi “setia” SBY, serta bagaimana pula track record mantan ketua umum PB HMI selama ini sebagai politisi. Demikian pula Amien Rais di suatu saat mendekat Istana, tapi di saat lain sikapnya ikut dalam kubu “penyerang” SBY. Juag Aburizal Bakrie dulu dekat SBY, namun setelah kasus Lumpur Lapindo diambilalih/menjadi tanggung jawab pemerintah, kini tidak segan lagi untuk ikut dalam barisan “oposisi” terhadap SBY.

Selain Akbar Tandjung, Amien Rais dan Aburizal Bakrie, masih ada sosok yang diduga atau diperkirakan mengincar jabatan Wapres apabila Boediono dilengserkan, yaitu Taufiq Kiemas, Hatta Rajasa, dan Hidayat Nurwahid. Tapi dari semua nama ini, nampaknya Prabowo lebih “save” menjadi Wapres bagi SBY, apabila rekomendasi Pansus Century memerintahkan MPR untuk menggelar sidang istimewa memakzulkan Wapres Boediono dimana Presiden harus menyetorkan dua nama calon penggantinya.

Sebab apa Prabowo lebih “save” bagi SBY? Pikiran Prabowo lebih eksak dan tidak pernah nampak bersikap double standar (bermuka dua) alias lebih “gentle”. Sikap Prabowo yang “hitam putih” dan relatif tidak mencla-mecle, tercermin dalam ucapan dan pernyataannya di saat kampanye Pemilu maupun Pilpres 2009 lalu. Artinya, SBY akan lebih aman berteman dengan Prabowo yang diharapkan menjadi “teman sejati” dan bukan teman “palsu” yang selalu memanfatakan kesempatan dalam kesempitan. Asal saja, semua tujuan berkoalisi untuk menegakkan kebenaran, bukan untuk menutupi keburukan atau kesalahan, korupsi dan penyelewengan. Tapi akankah SBY melirik Prabowo untuk menjadi Wapresnya? Tentunya kita juga harus tunggu dulu rekomendasi Pansus Century nanti apakah benar memutuskan untuk pemakzulan Boediono?

Di luar semuanya itu, masih ada satu lagi faktor persyaratan bagi Prabowo untuk bisa maju menjadi Wapres, yakni faktor eksternal atau 'rekomendasi' kekuatan pihak asing. Pasalnya, ada indikasi atau dugaan bahwa kemenangan SBY bersama Partainya dalam Pemilu lalu adalah karena ada dukungan Amerika Serikat (AS), apalagi terkait tjudingan adanya kecurangan penghitungan suara yang konon dibantu AS. Oleh sebab itu, SBY tidak bisa lepas dari bayang-bayang pengaruh AS. Jadi, kata kuncinya sekarang adalah apakah pada 2014 Amerika sudah bisa menerima Prabowo untuk menjadi Wapres? Kalau dipikir dengan logika, kayaknya tidak mungkin. Tapi kalau memakai acuan bahwa Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin yang dikabarkan 'dicekal' AS, kini sudah bisa menjadi Wakil Menteri Pertahanan RI.

Apakah AS di bawah kepemimpinan Barack Obama lebih toleransi terhadap situasi dalam negeri Indonesia? Apakah juga Obama menerima keberadaan Prabowo, meski parlemen atau Kongres AS menolaknya? Hanya saja, Prabowo harus ingat pada ucapannya saat kampanye Pemilu dan Pilpres 2009 lalu. Saat itu Prabowo dengan Partai Gerindranya dengan tegas meneriakkan anti neolib. Kalau sekarang Gerindra mau bergabung dalam koalisi SBY yang notabene cenderung neolib, maka Gerindra plus Prabowo m,elakukan itu perbuatan yang tidak senonoh atau selingkuh politik. Sebab, Gerindra sudah mengharamkan neolib malah masuk dalam koalisi. Ketimbang berpikir pendek, Gerindra sebaiknya memilih kepentingan jangan panjang untuk Pemilu 2014 agar tidak anjlok menajid partai gurem! (*)

Banner space (468x60)
 
Komentar
Judul:
 
Nama Lengkap:
Anti Spam:
 
RE:Mungkinkah Demokrat Dukung Prabowo jadi Capres 2014? 
Minggu, 28/02/2010 | 11:06 WIB, oleh sigitpurwnto
 
kalau prabowo memang layak jual, kalau yang menjual partai demokrat, siapa yang mau membeli?. harus hati-hati.
 
RE:Mungkinkah Demokrat Dukung Prabowo jadi Capres 2014? 
Sabtu, 27/02/2010 | 09:17 WIB, oleh Bayu
 
Emoticon emang siapa dari demokrat yang menjamin kalau memang demokrat mau mendukung pak Prabowo..? ha ha ha...isu yang murahan.....
 
Komentar ke : 1 - 2 | Total : 2 | Halaman :