Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) mendukung rencana dilakukan tes HIV terhadap TKI asal NTB yang baru pulang dari luar negeri.
"Ada dugaan TKI yang datang dari luar negeri ikut menyumbang jumlah penderita HIV/AIDS di daerah NTB," kata Kepala BP3TKI NTB, Komang Subadra, di Mataram, Senin (15/2).
Penyakit AIDS (acquired immune deficiency syndrome) adalah penyakit yang menghancurkan sistem kekebalan tubuh manusia, yang disebabkan oleh virus HIV (human immunodeficiency virus).
Menurut dia untuk melakukan tes HIV bagi TKI yang baru pulang membutuhkan dana cukup besar mencapai Rp 25 milyar pertahun, karena jumlah TKI NTB yang pulang bekerja dari luar negeri sekitar 25.000 orang setiap tahun.
"Jika menuruti keinginan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) NTB untuk melakukan tes HIV setiap TKI, maka harus disediakan anggaran khusus melalui APBD," kata Komang.
Ia mengingatkan kalau HIV dan AIDS tidak segera diatasi, lambat laun jumlah pederita penyakit tersebut akan bertambah, bukan hanya masyarakat kota, tetapi juga di pedesaan.
Wakil Sekretaris KPA NTB Drs H Arsyad Gani mengatakan, kemungkinan TKI yang baru pulang dari luar negeri diduga ikut menyumbang jumlah penderita HIV/AIDS di daerah ini.
KPA NTB prihatin terhadap TKI yang diduga ikut menyumbang jumlah penderita HIV/AIDS di daerah ini, karena itu pihaknya bekerja sama dengan Disnakertrans dan BP3TKI akan melakukan pemeriksaan kepada setiap TKI yang baru pulang dari luar negeri.
"Apalagi NTB merupakan propinsi terbesar kedua setelah Jawa Timur mengirim TKI ke luar negeri dengan jumlah sekitar 40.000 orang pertahun," katanya.
Menurut Komang, dengan adanya pelayanan satu atap terhadap TKI, akan mempermudah melakukan tes kepada TKI yang baru datang dari luar negeri.
"Namun diakui tidak semua TKI yang datang dari luar negeri melapor ke BP3TKI atau Disnakertrans," katanya.
Menurut dia untuk mengatasi hal tersebut, kemungkinan akan ditempatkan petugas baik di Bandara Selaparang Mataram maupun di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat untuk mengantisipasi kedatangan TKI dari luar negeri.
Jumlah penderita HIV/AIDS di NTB terus bertambah, hingga 2008 tercatat 220 orang yang terdiri atas terinfeksi HIV 137 orang dan positif AIDS 83 orang. "Kemungkinan pada 2009 bertambah lagi, sampai sekarang masih didata" katanya.
Dari jumlah tersebut Kota Mataram menempati urutan teratas dengan jumlah penderita yang terinfeksi HIV 65 orang dan positif AIDS 54 orang,diikuti Lombok Timur dengan 25 HIV dan 11 AIDS, Sumbawa Barat 18 HIV dan empat AIDS serta Lombok Barat 13 HIV dan 11 AIDS. (bnp2tki)


