Banner space (950x60)
 
Bookmark and Share
Berita Terkait
moreBerita Lainnya
go-jakarta.com
Indeks Kebebasan Pers di Indonesia Merosot
lokasi: Home / Berita / OPINI / [sumber: Jakartapress.com]
Senin, 08/02/2010 | 23:12 WIB

Indeks Kebebasan Pers di Indonesia Merosot
OLEH: ARIEF TURATNO

LAPORAN Reporters Without Borders (RWB) yang bermarkas di Paris, Perancis menyebutkan bahwa indeks kebebasan pers tahun 2009 di Indonesia mengalami kemerosotan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika di tahun 2008 indeks prestasinya 27, maka tahun 2009 mencatatkan angka 28,5. Semakin tinggi angkanya, maka semakin tinggi pula resiko yang disandang para kuli disket. Pertanyaan dan persoalannya adalah apakah ada hubungan antara merosotnya kebebasan pers dengan posisi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat ini?

RWB adalah NGO yang selalu mengkritisi soal kebebasan pers di berbagai belahan dunia, tidak terkecuali Indonesia. Mereka mengukur atau memberikan penilaian soal kebebasan pers itu dikaitkan dengan  kenyamanan dan keamanan para pekerja per situ sendiri. Misalnya seberapa banyak wartawan atau jurnalis yang terbunuh dalam tugasnya. Untuk Indonesia tercatat wartawan Radar Bali, Agung Gde Narendra Prabangsa yang terbunuh pada 9 Nopember 2009 karena meliput berita tentang korupsi yang melibatkan pejabat di Bali.

Masih pada bulan fan tahun yang sama, beberapa wartawan ditahan atau dipenjarakan karena menjalankan tugas yang dianggap melanggar hukum. Selain masalah kesalatam wartawan, RWB juga mencatat perlakuan yang hampir sama terhadap penulis di mailis, seperti kasus Prita Mulyasari dengan Rumah Sakit Omni Internasional. Juga kasus yang menimpa seorang pedagang di Jakarta yang dihukum gara-gara menulis surat pembaca di Kompas. Selain itu RWB menyoroti soal narasumber yang terintimidasi setelah memberikan keterangan pers. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah telepon dari pejabat tertentu kepada redaksi surat kabar untuk tidak memuat berita tertentu.

Jika benar laporan RWB tersebut, maka betapa naifnya pemerintah kita. Di satu sisi kita mengatakan perlunya kebebasan pers. Namun di lain pihak, juga mereka---atau setidaknya orang suruhan pejabat tertentu---melakukan teror terhadap pekerja media. Bahkan tidak hanya melakukan telepon tersembunyi, beberapa petinggi negara ini secara terang-terangan juga kerap mengecam pekerja pers, yang ditudingnya menulis atau memberitakan tidak seimbang dan sebagainya. Keadaan ini benar-benar sangat memprihatinkan, namun  itulah fakta yang terjadi dan melanda bangsa ini.

Dibanding sebelum tahun 1999 atau di masa Orde Baru, memang kebebasan pers sekarang jauh lebih baik. Hal ini antara lain ditunjukan dengan dihapuskannya SIUP yang dinilai memberatkan para pekerja pers. Di samping itu, beberapa aturan di organisasi kewartawanan juga mengalami regulasi. Jika dulu hanya ada satu wadah tunggal untuk pekerja jurnalis, yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Saat ini, selain PWI, kita juga punya Asosiasi Jurnalis Independent (AJI), PWRI dan lain-lain. Dan awalnya semua itu adalah sorga bagi wartawan.

Belakangan ini setelah pemerintahan pimpinan SBY mulai terpojok gara-gara kasus Bank Century. Maka kebebasan pers pun mulai terancam. Meskipun ancaman itu tidak terjadi terang-terangan, namun akibatnya mulai benar-benar terasakan. Misalnya ada sejumlah media yang tiba-tiba kehilangan sejumlah iklan, karena pemasang iklan, atau pemilik perusahaan takut, jika dianggap pro media bersangkutan. Ini terjadi gara-gara media tersebut cukup berani mengungkap fakta yang justeru dianggap tabu pihak lain.

Semua itu jelas selalu dipantau RWB, yang meskipun berpusat di Paris, Perancis namun memiliki jaringan hampir di seluruh dunia. Dan mudah-mudahan apa yang dipublikasikan RWB ini menjadi catatan kita semua. Berkaitan dengan hari ulang tahun pers yang jatuh pada tanggal 9 Februari besok. Maka hendaknya, masalah tersendatnya kebebasan pers ini menjadi keprihatinan kita bersama. Selamat Hari Ulang Tahun Pers. Semoga jurnalis Indonesia tetap maju terus pantang mundur! (*)

Banner space (468x60)
 
Komentar
Judul:
 
Nama Lengkap:
Anti Spam:
 
RE:Indeks Kebebasan Pers di Indonesia Merosot 
Senin, 08/02/2010 | 23:38 WIB, oleh JeKa
 
Ya ya ya.Wartawan Radar Bali dibunuh oleh adik bupati yang kader PDIP. Prita Mulyasari ditangkap diduga karena adanya permainan mata antara oknum penyidik dan sebuah RS swasta.
 
Komentar ke : 1 - 1 | Total : 1 | Halaman :