
Jakarta - Mantan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Susno Duadji boleh saja berpangkat jenderal bintang tiga. Tapi soal eksistensi di Polri, nampaknya dia sudah benar-benar terpinggirkan. Buktinya, Susno tidak diundang di acara rapat pimpinan (Rapim) Polri. "Saya tidak diundang," ungkap Susno, Senin (8/2).
Namun Susno memang mahfum dengan alasan dia tidak diundang. Meski sebenarnya dengan pangkat bintang tiga yang hanya ada beberapa orang saja di Polri, dia semestinya diundang. "Itu kan Rapim polri. Artinya rapat pimpinan. Saya memimpin apa?" papar mantan Kabareskrim Polri.
Rapim Polri ini dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Mabes Polri pada pukul 10.00 WIB. Tema Rapim Polri ini yakni membangun kemitraan dengan memantapkan kepercayaan masyarakat menuju pelayanan prima guna mendukung RPJMN tahun 2010.
Sejumlah Menteri dijadwalkan akan hadir mengisi Rapim tersebut seperti Menteri ESDM dan Menteri Hukum dan HAM. Rapim diselenggarakan mulai 8 hingga 10 Februari. Dalam Rapim ini diundang seluh perwira tinggi dan perwira menengah di Mabes Polri. Termasuk beberapa diantaranya yang tidak memimpin divisi tertentu di Polri.
SBY Dekati Polri
Setelah mendekati Marinir, kini SBY mendekati Polri. Apa pula maksud "pesanan" SBY terhadap Polri berikut ini? Presiden SBY menangapi positif terhadap berbagai kritikan pedas yang ditujukan kepada pemerintah. Berbagai kritikan dianggap sebagai obat yang mujarab. Tapi kalau overdosis, kritikan menjadi menyakitkan.
"Kritik itu laksana obat. Ketika obat itu benar sesuai dengan jenis apa yang diobati, dan dosisnya tepat, dan bikin sehat," kata SBY di hadapan para petinggi Polri dalam acara Rapimnas Polri di Mabes Polri, Senin (8/2). "Tapi kalau obat itu dosisnya keliru, tidak tepat, malah bikin tidak sehat, tambah sakit," imbuh SBY.
Sebelumnya, SBY menceritakan pengalamannya saat menghadiri acara wisuda perwira TNI/Polri di Surabaya beberapa waktu lalu. Dalam acara tersebut, SBY mendapat pertanyaan oleh Taruni soal pemberitaan yang terus menghujat kepolisian terkait kasus Bibit-Chandra. "Pak Presiden bagaimana sikap kami ketika ada sorotan, kritik, bahkan hujatan kepada institusi kami, yang sesungguhnya mengemban tugas bagi bangsa," curhat SBY menirukan pertanyaan Taruni.
"Jawaban saya, menghadapi seperti itu jajaran kepolisian harus bersikap jernih, rasional dan tenang. dan tidak emosional, untuk lakukan evaluasi termasuk introspeksi apakah ada kekurangan dalam mengemban tugas. Kalau memang ada, perlu diperbaiki, sebagaimana seluruh komponen bangsa yang juga harus lakukan evaluasi," papar SBY.
SBY menjelaskan, jika terjadi salah paham dari masyarakat, polisi harus mampu menjelaskan secara gamblang. Karena akan bahaya jika polemik yang berlarut-larut tidak dijelaskan secara gamblang. "Masih dalam konteks sorotan yang tajam, kalau itu ada salah paham, perlu dijelaskan," kata Presiden. (*/dtc/jpc)
