
Jakarta - Kekhawatiran sejumlah kalangan terhadap serbuan ”batik china” dianggap berlebihan oleh kalangan industri batik di dalam negeri. Kekhawatiran yang disulut berlakunya Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China mulai tahun 2010 ini sebenarnya tidak berlaku terhadap produk batik karena perbedaan pengertian tentang batik serta kondisi pasar di dalam negeri.
Pendapat ini dikemukakan oleh kalangan industri batik di Kota Solo, Jawa Tengah, di tengah Festival Batik China Kuno dan pemberian penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) kepada pengusaha Santosa Doellah dari PT Danar Hadi di Museum Batik Kuno Danar Hadi, Solo, Sabtu (6/2), seperti dilansir Kompas.
Menurut Priyo Hadisutanto, mewakili pengusaha Solo, ACFTA menuntut perhatian ekstra terhadap produk-produk lokal. ”ACFTA menimbulkan ancaman serius yang bisa mengakibatkan kerugian, bahkan kematian industri di dalam negeri. Produk dari China akan bebas masuk ke Indonesia dengan harga yang lebih murah dan kualitas yang bersaing,” katanya.
Achmad Sulaiman, pengusaha dari Kampung Batik Laweyan, Solo, tak sependapat dengan Priyo. Menurut dia, pihaknya tidak cemas akan isu membanjirnya batik china. Batik sejati dinilai bersifat tren yang berubah secara berkala. Punya pangsa pasar sendiri dan hanya bisa bisa dibuat perajin di dalam negeri.
Asti Suryo Astuti, Asisten Manajer Museum Batik Danar Hadi, menjelaskan, batik china koleksi museum bukan batik yang dibuat di China, melainkan batik yang menggunakan motif dan ragam hias dari budaya China. ”Selain pewarnaannya yang khas, dominan warna merah dan biru, ragam hiasnya ditandai ikon burung hong, kilin, mega mendung, dan banji,” katanya.
Jaya Suprana saat menyampaikan penghargaan Muri kepada Santosa Doellah menyatakan, ”Di Museum Danar Hadi Solo ini, dan bukan di India atau China, terdapat koleksi batik china kuno paling lengkap dan satu-satunya di dunia. Karena itu, atas nama bangsa Indonesia dan pencinta kebudayaan, saya menyampaikan penghargaan yang tinggi atas segenap karsa dan karya Bapak Santosa Doellah.”
Koleksi batik china kuno yang dikumpulkan Santosa sejak tahun 1980 ada yang diproduksi pada tahun 1840—biasanya digunakan untuk ritual—sedangkan yang pascatahun 1910 merupakan produksi massal. (*/kcm)
Kamis, 17/06/2010 | 12:46 WIB, oleh Luckman Rahajra
Keunggulan China ada pada
Produksi Masal dengan harga super kompetitif dan copy kemampuan atau produk.
Kalau melihat nasionalisme yang kurang sangat mungkin
Jika Indonesia tidak berbenah akan kualitas Batik dan
tetap saja ingin untung besar tapi kualitas kurang memadai.
Hal ini akan jadi bumerang. Sebab masyarakat kita tidak begitu perduli tentang asal
mula dan sejarah. Sebab kita masih dalam Tahap mengembangkan nasionalisme.
Dukungan bisa berasal dari publik figure yang mempopulerkan Batik khas dan patent Batik Indonesia. Nilai historis Batik yang diajarkan disekolah juga.
Sekarang sudah banyak Produk Batik China yang tentu akan bersaing ketat dengan pengrajin yang masih belum bisa memberikan harga yang kompetitif sebab masyarakat umumnya tidak begitu mengenal akan kualtias bahan dan buatan dengan baik. Misal : Istilah Sutera yang umumnya bukan Sutera.
Luckman dari http://www.bajubatik.org
| Komentar ke : 1 - 1 | Total : 1 | Halaman : |


