Bookmark and Share
ilmci
Berita Terkait
moreBerita Lainnya
frenbook
Aura SBY Redup dan Ekonomi 'NeoCin'
lokasi: Home / Berita / Wawancara / [sumber: Jakartapress.com]
Sabtu, 09/01/2010 | 00:37 WIB
Aura SBY Redup dan Ekonomi 'NeoCin'

PARANORMAL Imam Soeroso yang juga anggota Fraksi PDIP DPR RI memprediksi nasib Presiden SBY. Mantan polisi ini mengungkapkan pikiran dan gagasannya mengenai situasi politik yang sedang berkembang di Indonesia kini mulai dari kasus Bank Century, kasus Susno Djuadji sampai Free Trade Agreement (FTA) yang diberlakukan mulai Januari 2010.

Imam Soeroso kelahiran Pati, Jawa Tengah, 10 Januari 1964, sebagai anggota DPR RI periode 2009-2014 di Komisi III DPR (membidangi Hukum). Satu poin yang ingin diwujudkan kader PDIP yang memiliki rumah sakit ini adalah meningkatkan perekonomian rakyat kecil.

Ditemui jakartapress.com di ruang kerjanya, Lantai 6 Gedung DPR RI, Senayan, Jumat (8/1), Imam Suroso mengaku dalam penerawangannya sedang melihat bahwa aura dan sinar SBY sekarang ini sedang redup. "Secara psikologis SBY juga redup. Hal tersebut mungkin terkait dengan Century yang sekarang ini sedang gencar diperiksa oleh pansus DPR," ungkapnya. Berikut petikan wawancara dengan Imam Soeroso.

Apa latar belakang Anda menjadi anggota DPR RI?
Saya ingin mengabdi kepada masyarakat dengan menjadikan negara Indonesia ini terang benderang dan lebih baik ke depan. Beberapa masyarakat meminta kepada saya untuk menjadi anggota dewan agar mereka bisa tersambungkan aspirasinya. Saya di sini ingin menjadi penyambung lidah rakyat, misalnya dengan merubah UU yang memang tidak bermanfaat atau merugikan rakyat. Di sini, saya bisa menegur langsung polisi, jaksa dan juga KPK yang tidak menaati UU. Hal tersebut tidak bisa optimal saya lakukan bila saya bukan DPR. Menjadi anggota dewan lebih efektif dan produktif untuk merubah keadaan.

Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa politik itu “kotor”, bagaimana tanggapan Anda? Apakah setelah menjadi anggota Dewan, Anda terjebak dalam “kekotoran” politik ini?
Politik itu sebetulnya adalah soal kebijakan dan undang-undang. Jadi kita memang sebaiknya berpijak pada undang-undang yang telah berlaku. Di dunia politik kita janganlah menghalalkan segala cara untuk mencapai kepentingan pribadi.

Bicara mengenai politik, bagaimana Anda melihat kepemimpinan dan sosok SBY sekarang?
Aura dan sinar SBY sekarang ini sedang redup. Secara psikologis SBY juga redup. Hal tersebut mungkin terkait dengan Century yang sekarang ini sedang gencar diperiksa oleh Pansus DPR.

Apakah Anda melihat bahwa SBY akan jatuh di tengah jalan?
Saya melihat fifty-fifty. Tetapi, memang bila seorang pemimpin sudah tidak lagi sesuai dengan UU dan melanggar hukum semestinya diganti. Saya sampai saat ini belum melihat adanya usaha yang serius untuk menggulingkan SBY. Tetapi mungkin nanti akan ada kemarahan dari publik bila pemerintahnya selalu berperilaku tidak adil dan menyakiti hati rakyat. Tetapi kalau memakai jalan DPR, misalnya melalui voting, maka SBY akan tetap eksis. Hal tersebut karena partai koalisi SBY masih sangat mendominasi dibandingkan dengan partai yang tidak ikut dalam koalisi.

Lalu bagaimana Anda melihat koalisi SBY ini?
Saya melihat akhir-akhir ini koalisi tersebut mulai agak goyang. Partai sebetulnya memang harus dijadikan wadah untuk membela kepentingan rakyat. Dalam soal koalisi, bila koalisi merugikan partai maka partai tersebut niscaya akan mundur dari koalisi. Partai tidak akan mau berkoalisi bila merugikan.

Mengenai kasus Century, apakah Anda yakin Pansus Century DPR akan berhasil membongkar skandal Bank tersebut?
Saya yakin ada hasilnya. Sekarang ini kan sudah zamannya transparansi dan keterbukaan. Rapat-rapat selalu terbuka. Wartawan boleh meliput dan TV juga menyiarkannya secara terbuka kepada publik. Yang pasti Boediono dan Sri Mulyani memang harus bertanggungjawab atas bailout tersebut. Saya yakin pansus Century akan membuahkan hasil.

Bila kita sedikit melihat pemerintahan SBY dalam soal ekonomi, bagaimana bapak melihat kebijakan ekonomi SBY terutama dengan pemberlakukan Free Trade Agreement (FTA) yang dimulai 2010 ini?
Indonesia sebetulnya belum siap dalam menghadapi perdagangan bebas ini. Diperkirakan nanti akan meningkat jumlah pengangguran karena FTA ini. Industri-industri juga akan goyah karena tidak mampu bersaing dengan Cina. Jadi kemungkinan nanti akan makin banyak TKI dan TKW ke luar negeri. Orang-orang Indonesia yang sebenarnya produktif akan pindah mencari pekerjaan ke luar negeri. Sementara itu sebenarnya Indonesia ini memiliki kekayaan yang luar biasa. Era sekarang ini kita tidak cukup untuk menyebut Neolib (neo-liberalisme) tetapi NeoCin (Neo Cina). (boy/ani)

Banner space (468x60)
 
Komentar
Judul:
 
Nama Lengkap:
Anti Spam:
 
RE:Aura SBY Redup dan Ekonomi 'NeoCin' 
Selasa, 25/05/2010 | 08:05 WIB, oleh simbah budi kroso
 
imam suroso ini sebenarnya bukan hanya paranormal gadungan, juga manusia palsu. saya pernah baca di suara merdeka, dia menjelek2kan Megawati abisan dan menyanjung2 sby tinggi2. tahunya sekarang dia ikut mega dan ganti menjelek2an sby. Sungguh manusia munafak. Selain itu, lihat gayanya ketika beberapa kali tampil di layar kaca; wagu, ndeso, katrok. coba pula lihat di web-web lain, namanya di caci maki oleh orang2 yang ditipunya mentah2. waktu masih jadi bintara polisi, dukun aspal ini suka keluyuran di lokalisasi2 wts/pelacuran. kalau gak percaya, tanya aja sama boss edi. asisten anak buahnya juga diajari mabuk2an. kroni2nya juga dijadikan dukun aspal. itu dewi sedap malam, kakak sulungnya. jengh asih, istrinya. eyang joyoharto, tukang kebunnya. wah, sungguh katrok. maaf ya, ini sebagian kecil aja aib imam suroso yang saya bukak, berdasarkan pengalaman saya bertahun2 jadi asistennya. sumpah mati, ini semua benar !
 
RE:Aura SBY Redup dan Ekonomi 'NeoCin' 
Minggu, 10/01/2010 | 16:22 WIB, oleh agus
 
betul pak imam, sby memang tidak cocok kerja di air pak....
 
Komentar ke : 1 - 2 | Total : 2 | Halaman :