KEJADIAN di Mumbay atau Bombay, India, barangkali adalah kejadian yang paling spektakuler di awal abad 21. Serangan 10 teroris yang mirip pasukan komando itu, mampu membuat kota berpenduduk 7 (tujuh) juta jiwa itu terperangah, heran dan nyaris tidak percaya. Meskipun dibanding serangan di menara kembar World Trading Centre (WTC), New York, Amerika Serikat (AS) korban yang jatuh lebih kecil. Namun kekagetan dunia nyaris sama dengan peristiwa yang menelan sekitar 2.000 jiwa tersebut.
Lebih mengejutkan lagi, serangan itu terjadi di Mumbay, kota terbesar dan teramai di kawasan Hindustan tersebut. Kota yang dinilai paling aman di seluruh India karenanya tidak heran jika banyak ekspatriat berkumpul, melancong atau pun sekedar bersantai di Mumbay. Ini pula, sehingga komunitas Yahudi berani dan melakukan aktifitasnya di sini.
Tidak mungkin komunitas Yahudi mau bertempat tinggal di luar Israel, jika tidak yakin tempat dimana mereka tinggal dinilai cukup aman. Dari segi keamanan, pihak sekuriti India memang tidak boleh dipandang remeh. Kelengkapan inteljen dan alat telekomunikasi mereka juga tergolong canggih. Bahkan mungkin paling canggih di negara-negara Asia Selatan.
Belum termasuk persenjataannya, terutama jenis senapan serbu (penyerbu) yang dimiliki pasukan India, tidak terkecuali yang digunakan pihak keamanan dalam negeri negara tersebut. Senjata laras panjang yang mereka gunakan adalah modifikasi atau perpaduan antara M16 dan AK 47, senjata serbu kebanggaan pasukan AS dan Uni Sovyet (Rusia). Jadi ringannya seperti M16, keampuhan dan ketangguhannya mirip AK 47.
Dengan segala macam kecanggihan seperti itu, ternyata pihak keamanan India sempat kecolongan, setelah 10 orang teroris itu mengobrak-abrik tempat penting atau vital, serta bergengsi di Mumbay dengan korban lebih 100 orang meninggal, dan 300 orang lebih luka parah dan ringan. Pertanyaannya mengapa itu bisa terjadi?
***
SETELAH serangan di WTC, salah satu media di ibukota mengadakan diskusi. Dalam diskusi yang dihadiri mantan petinggi tentara, Letjen (Pur) Sayidiman S menduga, jika serangan di WTC itu adalah bagian dari rekayasa pihak inteljen AS. Benarkah? Untuk menilai benar tidaknya asumsi tersebut memang cukup susah, karena belum ada bukti-bukti yang konkrit dan nyata.
Dan selama itu masih berupa asumsi, tudingan boleh saja dilakukan. Tho, asumsi itu juga didukung argumen antara lain, bahwa AS adalah negara yang paling canggih dinas inteljennya. Di AS ada CIA, FBI, NSA dan lain-lainnya yang memiliki alat pendeteksi cangggih dan kemampuan personilnya yang cukup teruji dan terlatih dengan baik.
Maka ketika ada serangan pesawat dan pesawat itu dapat lolos dari radar pengintai inteljen AS, sungguh sangat tidak masuk akal. Sebab kata beberapa teman yang sempat berkunjung ke Penthagon, jarum jatuh saja di AS, gedung putih dalam hitungan seperkian detik sudah tahu. Apalagi ada pesawat yang tiba-tiba melenceng atau keluar jalur.
India mungkin tidak secanggih AS, namun ketegangan yang terus-menerus dengan negara tetangganya, Pakistan, sehingga sangatlah tidak mungkin jika negara tersebut bersikap masah bodoh terhadap keamanan dalam negerinya. Kendaii kalah hebat dibanding AS, tetapi India pun pasti tidak ingin kecolongan. Karena itu pantaslah jika dipertanyakan, mengapa 10 orang teroris bisa lolos dan mampu mengobrak-abrik Mumbay?
***
DALAM dekade terakhir, selain Cina---India adalah negara kedua yang memiliki pertumbuhan ekonomi sangat bagus di kawasan Asia. Tidak hanya ekonominya yang berkembang pesat, namun teknologinya pun mengalami kemajuan yang sangat berarti. Sayangnya, baik Cina maupun India, bukanlah negara sahabat AS dan sekutunya dalam artian sesungguhnya.
Sebab selama perang dingin, baik Cina maupun India lebih memiliki kedekatan hubungan dengan Uni Sovyet dibanding dengan AS maupun sekutunya. Maka ketika India membangun atau mengembangkan program nuklier, AS pun segera mengajak sekutunya, Pakistan membuat nuklier.Mengapa?
Karena sesuai dengan kebijakan luar negeri AS, mereka lebih menyukai membangun pertahanan di luar negaranya dibanding membangunnya di dalam negeri. Karena India maupun Cina dianggap sebagai bahaya atau ancaman, maka AS meminjam Pakistan untuk membangun pertahanannya dengan proyek nuklier tersebut.
Pertanyaan dan persoalannya adalah apakah ada kaitan gerakan teroris itu dengan kepentingan AS di kawasan tersebut? Ini pun sulit untuk membuktikannya, namun dari beberapa indicator yang dapat kita tangkap, segala kemungkinan dapat saja terjadi. Artinya apa saja dapat dilakukan AS dengan alasan kepentingan.
***
KITA mungkin masih belum lupa dengan skandal kontra yang melibatkan CIA dan para gembong obat bius di Kolumbia. Persekongkolan semacam itu pun bisa dilakukan AS demi dan alasan kepentingan nasional. Karena ke depan AS masih butuh pasar di kawasan Asia untuk produk mereka.
Maka AS pun mau atau tidak mau akhirnya sangat berkepentingan dengan perkembangan India dan Cina. Sekarang, setelah India diguncang bom dan hampir pasti akan berpengaruh terhadap trust atau kepercayaan pihak luar terhadap India. Cina yang juga mempunyai pertumbuhan ekonomi mencengangkan, bahkan lebih baik dari India saat ini tengah diguncang isu produk makanan bercampur melamin.
Guncangan isu melamin yang terus melanda sekitar 27 negara Uni Eropa yang merupakan sekutu dekat AS, hampir pasti akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Cina. Padahal nilai ekspor Cina ke 27 negara anngota Uni Eropa itu cukup besar, sekitar 43 juta dolar AS setiap tahun.
Apakah ini juga memiliki scenario yang sama dengan serbuan teroris di Mumbay? Andalah yang akan memberikan penilaian, termasuk siapa kira-kira yang berdiri di belakangnya. (Arief Turatno, wartawan tinggal di Kota Tegal, Jawa Tengah)
| Komentar ke : 1 - 4 | Total : 4 | Halaman : |