RSS
06 Januari 2009
HomeNasionalPilpresPilkadaPartai-PartaiBisnisEnergiIndeks
Berita Terkait
Belum terdapat berita yang terkait...
moreBerita Lainnya
blitzmegaplex
Museum Adam Malik, Riwayatmu Kini
lokasi: Home / Berita / Serba Serbi / [sumber: Jakartapress.com]
Selasa, 02/12/2008 | 09:53 WIB - Dibaca 85 Kali
Museum Adam Malik, Riwayatmu Kini

Penyebutan Adam Malik (Wakil Presiden RI ke-3) sebagai agen CIA di Indonesia dalam buku "Membongkar Kegagalan CIA" karya Tim Weiner, membuat publik kembali mengingat akan sepak terjang Adam Malik. Karena kontroversial, buku itu laris manis di pasaran. Namun ini berbanding terbalik dengan nasib Museum Adam Malik yang kurang perhatian. Museum Adam Malik terletak di kawasan elit, Jalan Diponegoro 29, Jakarta Pusat. Ketika jakartapress berkunjung ke sana (30/11), bangunan yang harusnya dirawat dengan baik (karena merupakan aset negara), tak terurus. Di halaman, rumput liar tampak tumbuh di sela balok-balok yang menjadi lantai. Dahulu museum ini merupakan tempat tinggal Adam Malik. Setelah ia meninggal, bangunan berlantaidua ini kemudian diubah menjadi sebuah museum. Dahulu di dalamnya kita dapat menjumpai barang-barang koleksi Adama Malik, mulai dari keramik, lukisan (karya Basuki Abdullah, Affandi, Sudjojono, hingga Basuki Abdullah), benda-benda porselen, dan berbagai kerajinan tradisional. Kini museum tersebut kosong.

Museum yang diresmikan oleh Tien Soeharto ini pada masa jayanya sering dikunjungi turis-turis asing. Bangunan ini sendiri awalnya merupakan hadiah mantan Presiden RI ke-2, Soeharto, yang kemudian dijadikan kantor pusat dan Museum Yayasan Adam Malik. Ketika isteri Adam Malik─Nelly Malik─masih ada, ia yang paling rajin merawat museum dengan baik.

Telah lama rumah ini terbengkalai dan tidak lagi menjadi sebuah museum. Museum ini ditutup pada 2000. Sebagian barang-barang koleksi museum kini berada di Museum Fatahillah (terutama koleksi guci yang 90 persen berasal dari Cina) dan sebagian lagi ada di keluarga. Bahkan yang lebih ironis lagi, museum ini telah berpindah kepemilikan dan tidak lagi menjadi milik keluarga Adam Malik. Museum ini dilego kepada pengusaha Harry Tanoesoedibjo."Dijual ke Harry Tanoe atas nama istrinya," ujar anak pertama Adam Malik, Otto Malik, seperti yang dilansir dari media. Otto mengatakan, museum itu dijual karena sudah tidak terpelihara lagi sejak diputusnya dukungan dari pemerintah. "Kalau dulu aktif karena dapat dukungan dari pemerintah. Tetapi ketika diputus, agak berat kami untuk mempertahankan," ujarnya.

Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam, menilai penjualan ini sangat memprihatinkan. Meskipun tidak ada kewajiban hukum dari pemerintah untuk mempertahankan warisan tokoh nasional, tapi seharusnya ada kewajiban moral untuk menghargai tokoh bangsa. "Museum tokoh nasional seperti Soekarno, Hatta sampai Adam Malik harusnya diperhatikan oleh pemerintah. Harus diperhatikan, ini kan aset bangsa," kata Asvi. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlwannya, kata Soekarno.(fh)

 
Komentar
Judul:
 
Nama Lengkap:
Anti Spam: