RSS
06 Januari 2009
HomeNasionalPilpresPilkadaPartai-PartaiBisnisEnergiIndeks
Berita Terkait
Belum terdapat berita yang terkait...
moreBerita Lainnya
blitzmegaplex
Penahanan Aulia Pohan, Permainan SBY Untuk Raih Simpati Publik?
lokasi: Home / Berita / Opini / [sumber: Jakartapress.com]
Senin, 01/12/2008 | 18:54 WIB - Dibaca 108 Kali

BARU-baru ini, sebuah lembaga survei mengungkapkan temuan mereka yang membuat sebagian rakyat Indonesia tercengang. Karena lembaga (Cirus Surveyors Group) itu menyebutkan, jika popularitas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Partai Demokrat meningkat tajam, usai penahanan besan presiden, Aulia T Pohan, ditambah kebijakan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) yang mulai berlaku efektif, 1 Desember 2008.

Tentang kenaikan kepercayaan masyarakat terhadap SBY juga dibenarkan pemerhati politik dari Universitas Indonesia (UI), Andrinof Chaniago. Menurutnya, sebagaimana dilansir beberapa media, baik cetak maupun elektronik, peningkatan dukungan terhadap SBY dan Partai Demokrat khususnya melebihi dukungan masyarakat terhadap partai besar lainnya, seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) maupun Partai Golkar.

Karena itu tidak heran, kalau banyak tudingan ditujukan kepada SBY, jika penahanan Aulia T Pohan itu adalah bagian dari permainan politik pendiri Partai Demokrat tersebut dalam upaya meraih simpati publik. Benarkah tudingan atau tuduhan tersebut? Bagaimana faktanya?

    UNTUK menjawab semua persoalan tersebut, ada baiknya jika kita lihat dan simak apa yang terjadi di sekitar penahanan Aulia. Di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (29/11) pekan lalu, Kapolri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri mengingatkan jajarannya agar pemberlakukan jam besuk benar-benar ditaati. Artinya, jika jam besuk maksimal sampai jam 18.00. Maka setiap pembesuk di luar ketentuan tersebut hendaknya dilarang, tidak peduli siapa mereka.

Pernyataan Kapolri ini menyusul kecaman beberapa pimpinan partai dan para tokoh nasional, berkaitan kunjungan besuk anak dan menantu Aulia yang disebut-sebut melebihi ketentuan batas akhir jam besuk. Salah seorang pengurus teras sebuah partai politik yang memiliki pengaruh cukup besar bahkan menuding, tindakan tersebut dapat mengusik rasa keadilan.

Tidak hanya persoalan kelebihan batas jam besuk, keberadaan Aulia ditahanan Brimob, Kelapa Dua, Depok pun sebenarnya sudah mengundang ketidakpuasan sebagian besar masyarakat. Karena penempatan Aulia di rumah tahanan tersebut seolah-olah menunjukan perlakuan yang sangat istimewa terhadap besan SBY.


    MAKA sungguh sangat ironis, antara temuan hasil survei—Cirus Surveyors Group---dan fakta-fakta di lapangan, yang menunjukan adanya sikap kekecewaan masyarakat akibat keadaan sebenarnya. Maka sebagaimana dikemukakan anggota Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDIP, AP Batubara kepada sejumlah wartawan di Jakarta, belum lama ini jika dia kurang yakin dengan segala macam hasil survei.

Apalagi, kata AP waktu itu, terhadap survei-survei yang mengunggulkan SBY dan Partai Demokrat. Karena kenyataannya, rakyat sekarang jauh lebih sengsara daripada sebelumnya. Saat ini rakyat, justeru dalam keadaan tertekan dan menderita. Karena itulah PDIP mengeluarkan kebijakan 100 hari Megawati Soekarnoputri.

Kebijakan 100 hari tersebut dimaksudkan untuk memberikan jawaban atas fakta-fakta yang ditemukan di lapangan, bahwa daya beli masyarakat semakin menukik tajam. Dengan program tersebut diharapkan, masyarakat akan tergugah, bersemangat kembali, bangkit membangun bangsa dan negaranya. Karena factor utama penggerak partisipasi masyarakat adalah soal perut. Jika perut terisi, maka semua masalah akan dapat diselesaikan atau dikerjakan dengan baik.

    KEMBALI kepada soal tudingan masyarakat, mengenai penahanan Aulia T Pohan sebagai bagian dari upaya SBY untuk menarik simpati masyarakat. Benarkah? Untuk menjawabnya memang agak sulit, karena secara terang-terangan SBY pernah mengatakan kepada publik bahwa penindakan korupsi dalam pemerintahannya akan dilakukan tanpa pandang bulu.

Dalam kasus Aulia, SBY juga mengatakan, sebagai pribadi dia mengaku sangat sedih dan prihatin terhadap kasus yang menimpa besannya. Namun sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, SBY akan memberlakukan hal yang sama kepada semua orang, tidak terkecuali kepada besannya. Karena pemberantasan korupsi adalah bagian dari program kerja pemerintahannya.

Dan apa yang diucapkannya dipraktekan di lapangan, ditengarai dengan ditetapkannya status Aulia dari seorang saksi menjadi tersangka. Aulia yang sebelumnya bebas, kemudian ditahan. Namun kemudian muncul kilas balik dari keseriusan SBY tersebut, ketika penahanan Aulia seperti diistimewakan. Jam besuk anak dan menantu dibolehkan molor dari ketentuan. Jadi yang benar mana? Sungguhan ataukah sekedar main-main? (Arief Turatno, wartawan tinggal di Kota Tegal, Jawa Tengah)

 
Komentar
Judul:
 
Nama Lengkap:
Anti Spam:
 
RE:Penahanan Aulia Pohan, Permainan SBY Untuk Raih Simpati Publik? 
Selasa, 02/12/2008 | 07:33 WIB, oleh Aman-Tangerang
 
SBY emang oyee...ayo ada yang sebenarni dan setega SBY kagak?Coba kagak tega bagaimana, besan pun disikat. Eh...udah gitu, diomongin lagi, yang rekayasa lah, yang tipu-tipu lah, yang macam-macam. Dasar Lu semua emang bawel. Orang kerja serius beneran dikatain tegaan. Orang kagak tegaan, disebut pilih kasih atau tebang pilih. Jadi mestinya bagaimana sih? Aduh...ngurusin Lu pade bisa runyam nih urusan!
 
RE:Penahanan Aulia Pohan, Permainan SBY Untuk Raih Simpati Publik? 
Selasa, 02/12/2008 | 07:30 WIB, oleh Beno-Pamulang
 
SBY mah ciamik.Dia tidak pandang bulu, besan pun disikat. Tapi mestinya ente jangan nanggung. Jebloskan tuh besan ke Cipinang. Biar orang pun menilai, ente emang ciamik, tegas dan tidak pandang bulu. Soal tuduhan dan tudingan, biar aja. Tho, nggak jendol. Bosan sendiri yang nuding ntar kan diam. Bener nggak???
 
RE:Penahanan Aulia Pohan, Permainan SBY Untuk Raih Simpati Publik? 
Selasa, 02/12/2008 | 07:27 WIB, oleh Tasrifin-Tomang, Jakbar
 
Simpati publik tidak cukup dengan memainkan retorika, semacam kasus-kasus penahanan Aulia T Pohan maupun penurunan harga BBM. Karena rakyat sudah jenuh dengan segala retorika dan tipu-tipu. Rakyat sekarang butuh kenyataan. Maka jika SBY ingin terpilih lagi, berikan rakyat beras murah. Berikan rakyat minyak murah. Berikan rakyat perumahan dan sandang murah. Berikan rakyat lapangan pekerjaan yang memadai. Terakhir berikan keamanan dan kesejahteraan.
Itu semua harus diwujudkan, jangan cuma janji-janji. Sebab kita semua sudah bosan dengan segala macam janji.Soal rekayasa penahanan Aulia T Pohan, biar rakyat yang akan menilai, apakah tindakan SBY tulus ataukah tipu-tipu. Kalau tulus, mudah-mudahan dia akan dapat dukungan rakyat, sebagaimana harapannya. Tetapi kalau tipu-tipu, ya siap-siap saja rakyat akan berbalik membencinya.
 
RE:Penahanan Aulia Pohan, Permainan SBY Untuk Raih Simpati Publik? 
Selasa, 02/12/2008 | 07:21 WIB, oleh Tarman-Cipinang, Jkt Timur
 
Bukankah permainan dan main-main sudah biasa kita lakukan. Lihat saja bagaimana mantan Dubes Indonesia untuk Malaysia Jenderal Pol (Pur) Rusdihardjo yang terlibat kasus korupsi di Kedubes Malaysia? Sebagai warga sipil dan dia telah melakukan perbuatan yang mencoreng nama baik korp maupun bangsa dan negara, mestinya dia dipenjara sama dengan narapidana lainnya. Nyatanya, Rusdihardjo ditahan di tempat yang nyaman dan aman. Hal yang sama juga terjadi terhadap Komjen Suyitno Landung, yang mestinya dijebloskan ke Cipinang, tapi dia pun mendapatkan tempat yang istimewa di penjara. Bandingkan dengan apa yang dialami Rahadi Ramelan, Bedu Amang dan lainnya. Bahkan Tommy Soeharto yang anak mantan presiden pun harus merasakan dinginnya LP Nusakambangan dan Cipinang.
Mungkin untuk Rusdihardjo dan Suyitno Landung dapat kita pahami mengapa dia perlu dipenjarakan di Kelapa Dua. Sebab kalau dipenjara umum, misalnya LP Cipinang pasti keamanannya tidak dijamin. Para napi yang jengkel terhadap polisi dapat menjadikan keduanya sasaran balas dendam. Namun untuk Aulia Pohan, sebenarnya tidak ada alasan kenapa dia mesti di taruh di Kelapa Dua. Mengapa tidak dititipkan ke Cipinang atau apa. Tho, dia sudah menjadi tersangka. Nah ini barangkali yang dinilai ada ketidakadilan. Ada tindakan yang main-main atau sengaja dimainkan!
 
Banner space (468x60)
Komentar ke : 1 - 4 | Total : 4 | Halaman :