
Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati yang juga Plt Menko Perekonomian, menyatakan pemerintah segera mempercepat pengucuran anggaran belanja hingga Rp 100 triliun lebih untuk menambah likuiditas menjelang akhir Desember tahun ini. "Kita masih punya Rp 120 triliun di Bank Indonesia (BI). Kita harus spend one month (kucurkan dalam satu bulan-red). Kalau saya bayar DIPA (daftar isian pelaksana anggaran), dalam waktu satu kali 30 hari ke depan seluruh pencairan anggaran akan terjadi," ungkap Sri Mulyani di Jakarta, Selasa (25/11).
Menkeu mengemukakan, pemerintah sudah berkoordinasi dengan BI dan perbankan agar likuiditas yang ada bisa berputar. "Jadi jangan dipakai untuk membeli dolar AS saja. Ini malah bikin runyam," seru Menkeu. Menurutnya, pemerintah berharap pencairan anggaran tidak dipakai untuk spekulasi. "Ini digunakan untuk likuiditas aktivitas ekonomi, bukan untuk spekulasi. Jadi pemerintah akan terus-menerus mencairkan anggaran, bahkan sampai lebih dari Rp 100 triliun," paparnya. Diungkapkan, sejumlah pihak asing, baik bilateral maupun multilateral, sudah memberi konfirmasi kesiapan memberi pinjaman kepada Indonesia untuk pembiayaan defisit APBN 2009. Komitmen itu akan direalisasikan jika tidak dimungkinkan menarik pinjaman dari pasar melalui penerbitan obligasi negara.
"Untuk bilateral, Jepang sudah jelas karena memiliki hubungan yang sudah established (mapan-red). Sedangkan Prancis sudah konfirmasi dalam program pinjaman dan Australia sedang dalam pembicaraan," jelas Sri Mulyani. Lebih lanjut ditambahkan, Bank Pembangunan Asia (ADB) juga sudah memberi konfirmasi pinjaman 1,5 miliar dolar AS dan akan dicairkan secepatnya. "Bank Pembangunan Islam (IDB) juga akan standby (siaga-red). Ini termasuk penjajakan penempatan suku global yang diterbitkan pemerintah Indonesia," bebernya.
Mengenai jumlah seluruh komitmen pinjaman itu, Sri Mulyani belum bersedia menyebutkan, karena perlu kombinasi yang seimbang, sehingga pengelolaannya baik. Dia menyebutkan, APBN 2009 menetapkan defisit 1 persen dari PDB atau sekitar Rp 54 triliun. "Pembiayaan defisit 2009 akan baik, karena pemerintah melakukan suatu tindakan siaga. Kalau bond market (obligasi) tidak reasonable (memungkinkan) dari segi biaya dan risiko, maka wajib cari sumber lain, baik itu lewat bilateral maupun multilateral," kilahnya.
Langkah alternatif itu, menurut dia, sedang diupayakan. Jika sudah benar-benar disusun dengan baik, akan diumumkan, baik realisasi dari bilateral maupun multilateral. "Insya Allah, kalau sudah diatur, akan diumumkan baik bilateral, multilateral atau pasar. Setiap saat kalau lewat pasar (obligasi ritel) tidak masalah, baik domestik atau global. Pasti akan kita luncurkan," janji Menkeu. Dalam mengatasi krisis keuangan global saat ini, Sri Mulyani juga mengajak investor dan para pelaku pasar untuk mendukung pemerintah mengatasi krisis. Dia optimistis krisis bakal segera diatasi asalkan semua pihak bekerjasama dan mendukung kebijakan pemerintah.
"Ini bukan kondisi yang mudah. Kalau mendukung saya, maka saya akan emban amanat dan kepercayaan itu sampai jabatan saya berakhir. Tentunya dengan adanya kepercayaan dari masyarakat atas policy (kebijakan) yang ditempuh. Ibarat mata uang dua sisi, maka antara pemerintah dan masyarakat harus saling percaya," katanya.
Ia mengamati, bursa saham Indonesia saat ini tak lepas dari imbas krisis global. Indeks saham merosot drastis sejak awal tahun. Dalam kondisi seperti itu, pemerintah akan fokus membuat kebijakan dan akan memberi jaminan kepada investor. "Ini bukan suasana mudah, saya terus menerus bekerja tanpa lelah. Apa pun kami lakukan," akunya. Plt Menko perekonomian ini berjanji tidak akan mengecewakan kepercayaan investor pasar modal. Pemerintah sendiri, lanjutnya, kadang harus mengambil keputusan yang sulit. Namun, keputusan itu tetap diambil dengan pertimbangan dan berbagai rasio yang dikerahkan semua, serta dengan hati bening. (ARI)