top
channel
JAKNEWS | FEATURED | TERKINI
Senin, 14 Mei 2012 - 17:31

Indonesia-Rusia Rebutan Black Box


Indonesia-Rusia Rebutan Black Box

TERKAIT

JAKARTAPRESS.COM, JAKARTA - Hingga hari ke lima pascakecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 di wilayah Gunung Salak, Bogor, black box atau kotak hitam belum juga ditemukan. Namun, kotak yang dapat mengungkap misteri penyebab kecelakaan yang menewaskan 45 orang itu sudah jadi rebutan antara pemerintah Indonesia dan Rusia.

Indonesia memiliki kepentingan terhadap isi kotak hitam, karena mayoritas korban adalah warga negara Indonesia. Sementara Rusia, berkepentingan untuk mengetahui mengapa pesawat buatannya itu bisa jatuh.Ketua Sub Komite Penelitian Kecelakaan Transportasi (KNKT) Udara, Masruri  mengatakan, pihak Rusia telah meminta kotak hitam itu dianalisa di Rusia.

Namun, hal tersebut ditolak karena bertentangan dengan regulasi internasional. "Permintaan itu ada, tapi regulasinya, negara tempat kejadian melakukan proses analisa dari FDR supaya investegasi lebih objektif," katanya saat di Jakarta, Senin (14/5/2012).Menurut Masruri, ada dua kotak hitam yang berisi rekaman dan mesti didapatkan tim guna kepentingan investegasi. Yang pertama adalah Flight Data Recording (FDR) dan yang kedua adalah Cockpit Voice Recording (CVR).

Ia menegaskan, bahwa kotak hitam akan dibuka dan dianalisa di Indonesia. Namun, bisa ada pengecualian, yakni, apabila secara fisik kotak hitam itu rusak dan tidak mungkin akan langsung dibaca."Kami akan memindahkan yang ada di FDR dan CVR yang baru. Kami sudah koordinasi dengan Rusia untuk memfasilitasi agar black box bisa dibaca. Mereka sudah siap memberikan memori yang bisa mengunduh FDR di Indonesia," ujarnya.

Jika tidak bisa dibuka juga, maka KNKT akan membuka rekaman kotak hitam ke pabrik pembuatnya. Ia tidak memungkiri jika investegasi akan memakan waktu lama. Menurut Masruri, paling cepat investegasi dilakukan selama 1 bulan.Perwakilan dari Trimarga Rekatama, selaku agen pesawat Sukhoi Superjet 100, mengatakan, kalau pada akhirnya kotak hitam dibawa ke Rusia, maka harus ada tim dari Indonesia yang turut ke sana."Tetapi kotak hitam itu secara resmi harus di tangan KNKT Indonesia," imbuhnya.

Sebagai bagian dari keselamatan penerbangan di Indonesia, investigasi kotak hitam perlu dilakukan seobjektif mungkin untuk mendapatkan fakta yang sebenarnya. Jangan sampai, ada kesalahan teknis dari pesawat sipil pertama buatan Sukhoi itu yang ditutupi, yang akhirnya dapat mengulang tragedi Gunung Salak ini. Oleh: Hatta

Indonesia memiliki kepentingan terhadap isi kotak hitam, karena mayoritas korban adalah warga negara Indonesia. Sementara Rusia, berkepentingan untuk mengetahui mengapa pesawat buatannya itu bisa jatuh.

Ketua Sub Komite Penelitian Kecelakaan Transportasi (KNKT) Udara, Masruri  mengatakan, pihak Rusia telah meminta kotak hitam itu dianalisa di Rusia. Namun, hal tersebut ditolak karena bertentangan dengan regulasi internasional.

"Permintaan itu ada, tapi regulasinya, negara tempat kejadian melakukan proses analisa dari FDR supaya investegasi lebih objektif," katanya saat di Jakarta, Senin (14/5/2012).

Menurut Masruri, ada dua kotak hitam yang berisi rekaman dan mesti didapatkan tim guna kepentingan investegasi. Yang pertama adalah Flight Data Recording (FDR) dan yang kedua adalah Cockpit Voice Recording (CVR).

Ia menegaskan, bahwa kotak hitam akan dibuka dan dianalisa di Indonesia. Namun, bisa ada pengecualian, yakni, apabila secara fisik kotak hitam itu rusak dan tidak mungkin akan langsung dibaca.

"Kami akan memindahkan yang ada di FDR dan CVR yang baru. Kami sudah koordinasi dengan Rusia untuk memfasilitasi agar black box bisa dibaca. Mereka sudah siap memberikan memori yang bisa mengunduh FDR di Indonesia," ujarnya.

Jika tidak bisa dibuka juga, maka KNKT akan membuka rekaman kotak hitam ke pabrik pembuatnya. Ia tidak memungkiri jika investegasi akan memakan waktu lama. Menurut Masruri, paling cepat investegasi dilakukan selama 1 bulan.

Perwakilan dari Trimarga Rekatama, selaku agen pesawat Sukhoi Superjet 100, mengatakan, kalau pada akhirnya kotak hitam dibawa ke Rusia, maka harus ada tim dari Indonesia yang turut ke sana.

"Tetapi kotak hitam itu secara resmi harus di tangan KNKT Indonesia," imbuhnya.

Sebagai bagian dari keselamatan penerbangan di Indonesia, investigasi kotak hitam perlu dilakukan seobjektif mungkin untuk mendapatkan fakta yang sebenarnya. Jangan sampai, ada kesalahan teknis dari pesawat sipil pertama buatan Sukhoi itu yang ditutupi, yang akhirnya dapat mengulang tragedi Gunung Salak ini.(c/s)






KOMENTAR ANDA

Kontak KamiTentang KamiDisclaimerLowongan
Copyright © 2011 design by fonda > www.jakartapress.com

DMCA.com