
Jakartapress.com - Sopir bus PMTOH jurusan Solo-Aceh tiba-tiba mengamuk di Polda Metro Jaya. Ia kesal karena telah dimintai uang Rp 600 ribu oleh pria yang mengaku pengurus mobil derek dari Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya.
"Mobil saya mogok di depan DPR, lalu diderek sampai ke Polda. Eh, sudah di sini malah dimintai uang Rp 600 ribu," kata sang sopir bus yang bernama Edi Mulyono kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (21/2/2012).
Edi menceritakan, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 18.30 WIB. Sebelum akhirnya diderek ke Polda, bus bernopol BL 6876 A itu sudah mogok di dekat gerbang keluar Tol Semanggi I.
"Di tol di depan Polda, bus sudah mogok, lalu diderek sama mobil derek dari Jasa Marga," tuturnya.
Edi mengatakan, petugas derek dari Jasa Marga itu sempat menego biaya derek sebesar Rp 150 ribu. Namun karena Edi tidak punya uang, ia kemudian menawar kepada petugas derek tersebut.
"Tadinya minta Rp 200 ribu, tapi saya bilang saya cuma punya Rp 100 ribu. Akhirnya mereka mau," ucap Edi.
Setelah keduanya sepakat, Edi kemudian meminta busnya dibawa ke tempat yang aman. Edi bermaksud memeriksakan busnya itu.
"Tetapi mereka cuma mau mengantar sampai keluar tol Senayan saja. Jadi mobil ditaruh di depan DPR, katanya di sini aman," imbuhnya dengan nada kesal.
Tidak lama setelah derek Jasa Marga pergi, bus yang mengangkut 10 penumpang itu kemudian dihampiri oleh petugas derek Polda Metro Jaya. Menurut Edi, sopir derek itu menawarkan membawa busnya ke Markas Polda Metro Jaya.
"Pas di sana manis-manis ngomongnya, dan tidak ada minta-minta uang," imbuhnya.
Di depan DPR, sambung Edi, bus sempat diperiksa oleh petugas derek. Edi menduga, baut rem bus sempat dipatahkan oleh petugas derek tersebut.
"Rem dipatahin, baut 19-nya. Nggak bisa distel sampai sekarang," katanya masih dengan nada kesal.
Sesampainya di Mapolda Metro Jaya, Edi tiba-tiba didatangi seorang pria yang mengaku pengurus derek Polda Metro Jaya. Pria yang mengaku bernama Kasmun itu meminta uang atas jasa derek bus tersebut.
"Mintanya nggak tanggung-tanggung, Rp 600 ribu. Tidak lihat penumpang saya cuma sedikit begitu," ketus Edi kepada Kasmun yang saat itu juga masih ada di Polda Metro Jaya.
"Ini saya cuma punya Rp 200 ribu, dikasih sama Pak Edi Hasibuan (wartawan Poskota), dia tidak mau terima," imbuhnya.
Para penumpang yang kesal dengan ulah Kasmun, lalu menimpali pembicaraan. "Kami nggak minta bus diderek ke sini pak. Pakai minta-minta duit segala," kata penumpang laki-laki kepada Kasmun.
Kasmun yang dicecar oleh penumpang dan sopir serta kernet bus tidak mau kalah. Ia pun membela diri.
"Bus bapak itu berat, mau diderek ya ada ongkosnya," kata Kasmun penuh emosi.
Kasmun mengaku, untuk menderek kendaraan mogok ada tarif yang disesuaikan dengan jarak antar. "Ya tarifnya ada, sesuai tujuannya ke mana. Dari Slipi kan harus muter, jauh. Silakan tanyakan saja ke Lantas Pancoran, saya pengurusnya. Silakan kalau mau dilaporkan," timpal Kasmun.
Kasmun pun sempat memberikan nomor-nomor sejumlah polisi yang menurutnya mengatur masalah derek. Namun saat dihubungi, nomor tersebut tidak dapat dihubungi.
Merasa sudah terdesak, akhirnya Kasmun pun mengalah dengan meminta kembali uang sebesar Rp 100 ribu sebagai tambahan. "Ya sudah, tambahin saja deh Rp 100 ribu daripada nggak sama sekali," ujar Kasmun.
"Nggak punya malu, nih," kata Edi sambil memberikan uang sebesar total Rp 300 ribu.
"Kami buru-buru, kami siap diperiksa jadi saksi kalau nanti polisi butuh keterangan kami," tutup Edi sambil menuju kembali ke bus, melanjutkan perjalanan dari Solo ke Medan. (arsy/d)