
Jakartaptress.com – Langkah Presiden SBY membeli pesawat Kepresidenan mendapat sorotan berbagai pihak, mengingat rakyat kita sekarang banyak yang hidupnya susah.
Bahkan, menurut Sekretaris Fraksi PAN DPR RI Teguh Juwarno, ketimbang beli pesawat kepresidenan lebih baik anggarannya digunakan untuk memperbaiki sekolah rusak yang banyak sekali di negeri ini.
Oleh karena itu, ia menilai menilai rencana pembelian pesawat kepresidenan seharusnya dilihat dari kacamata sense of crisis. Dimana realitas masyarakat berbicara, banyak sekolah bobrok yang perlu mendapatkan perhatian serius, minimnya akses pendidikan yang terbatas serta kurangnya pemerintah dalam mengirim putra-putri bangsa untuk mendapatkan beasiswa keluar negeri.
"Angka (nominal pembelian pesawat) itu kalau untuk membuat generasi kita menjadi ahli yang mumpuni jauh lebih prioritas,"tegas anggota Komisi I DPR RI usai diskusi 'Pers Kita Hari Ini' di Warung Daun Cikini Jakarta Pusat, Sabtu (11/2/2012).
Menurut Teguh, rencana pembelian pesawat DPR memang sudah pernah dipaparkan di Komisi II DPR, dimana saat itu disampaikan keuntungan berikut kerugiannya jika membeli pesawat tersebut. Jika dilihat dari keuntungannya, besaran uang untuk membeli pesawat saat pemaparan memang lebih menguntungkan, dibanding misalnya dengan melakukan sewa pesawat yang sama. "Tetapi ini yang lebih mengemuka adalah kesadaran, azas kepatutan atau sense of crisis," tegasnya.
Harga satu unit pesawat kepresidenan sendiri diketahui mencapai USD 91.209.560,61 atau setara dengan Rp 910 miliar. Rencana pembelian pesawat kepresidenan tersebut, hampir dipastikan tidak akan terganjal. Namun Komisi I DPR akan tetap mengontrol penggunaan pesawat tersebut memberikan manfaat kepada kepentingan negara atau justru menjadi beban negara.
"Mau tidak mau kita harus telan (menerima) ini. Memang kalau kita lihat, membandingkan, Presiden Iran (misalnya) tidak merasa perlu untuk mempunyai pesawat, cukup pesawat komersial," tandas Teguh.
Rencana pembelian pesawat kepresidenan menjadi pertanyaan besar, pasalnya dalam ingatan Komisi I DPR Presiden SBY dalam berbagai kesempatan selalu mengemukakan agar lebih memprioritaskan produksi dalam negeri. Khusus teknologi burung terbang itu, Presiden SBY saat melakukan kunjungan pada 2010 lalu ke PT Dirgantara Indonesia (PTDI), bahkan memberikan cap bagi siapa saja yang tidak menggunakan produk dalam negeri sebagai pengkhianat. "Waktu beliau di PT DI tahun 2010, beliau mengatakan, mereka yang tidak menggunakan produksi dalam negeri semacam pengkhianat," jelas politisi PAN ini.
Komisi I DPR selama ini juga turut mendorong masyarakat untuk menggunakan produk dalam negeri. Meski upaya itu dalam prosesnya tidak mudah. Teguh mencontohkan bagaimana tentara (TNI) lebih senang dengan alat/senjata (alutsita) dari luar negeri. "Itu kan tidak masuk akal. Sementara teman kita (dari) ITB juga bisa memproduksi alat-alat yang sama dengan kualitas yang sama canggih," paparnya. (inc/ari)