
Jakartapress.com – Munculnya isu ada empat calon ketua umum Partai Demokrat (PD) pengganti Anas Urbaningrum mengoyang PD dan membuat persaingan elit di internal Partai besutan SBY itu semakin memanas.
Apalagi, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat (PD) Marzuki Alie dikabarkan memimpin rapat penggulingan Anas Urbaningrum sebagai ketua umum. Rapat yang dipimpin Marzuki itu digelar hari Senin (23/1/2012) di kantor Dewan Pembina Partai Demokrat di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, diikuti oleh 20 anggota Dewan Pembina. "Itu saat imlek, siang, itu kantor Dewan Pembina. Biasanya juga di kantor DPP," ungkap anggota Dewan Pembina PD Ajeng Ratnasuminar, di gedung DPR, Senayan, Senin (30/1/2012).
Salah satu hasil keputusan pertemuan itu adalah mempersiapkan empat nama untuk menggusur Anas. "Ada empat nama, satu orang Menteri dan tiga kader," bebernya.
Meski Marzuki Alie mengakui adanya rapat Dewan Pembina, namun dia membantah jika dalam rapat Dewan Pembina tersebut memutuskan usulan empat nama calon pengganti Anas Urbaningrum sebagai ketua umum. Apalagi, hasil itu kemudian disampaikan ke Ketua Dewan Pembina, SBY pada Selasa 24 Januari 2012 di Cikeas, Bogor. "Itu salah besar, tidak ada hal itu," elak mantan Sekjen Partai Demokrat ini.
Menurut Marzuki, pertemuan anggota Dewan Pembina adalah pertemuan rutin. Tidak membahas pergantian Anas Urbaningrum. "Kami rapat rutin yang terjadwal secara bulanan, tidak ada agenda yang menyebutkan persoalan-persoalan teknis," kilah politisi yang jadi Ketua DPR ini.
Ia pun mengaku, hasil rapat itu adalah konsumsi internal. Bukan untuk publik apalagi harus dipublikasikan. "Itu masalah internal, tidak pernah hasil rapat internal dipublikasikan," telak Marzuki.
Secara terpisah, Ketua DPP Partai Demokrat Sutan Bathoegana membantah pernyataan Ajeng Ratnasuminar yang menyebutkan bahwa rapat 23 Januari 2012, membahas pengganti Anas Urbaningrum sebagai ketua umum. "Kami tidak percaya dengan pernyataan Ajeng tersebut. Yang penting kesimpulannya seperti yang disampaikan Pak Andi Mallarangeng," tampik Sutan.
Pernyataan Ajeng dianggap bukan cerminan dari Dewan Pembina Partai Demokrat melainkan berbicara dalam kapasitas pribadi. "Itu pendapat pribadi saja. Yang resmi itu pernyataan Pak Andi Mallarangeng," sergah Sutan.
Menurut dia, sikap resmi bukan dari pernyataan Ajeng. Apalagi, banyak penilaian Partai Demokrat mulai pecah dengan perbedaan tersebut. "Ya harus pegang yang resmi dong, dan tidak perlu bingung lah itu," tukas Sutan.
Sementara pernyataan mengejutkan datang dari Ketua Departemen Komunikasi dan Informasi DPP Partai Demokrat, Ruhut Sitompul. Si ‘Poltak’ ini meminta Anas Urbaningrum mengundurkan diri dari jabatan ketua umum DPP Partai Demokrat. Menurutnya, keputusan ini lebih baik diambil oleh Anas sebelum tersangkut proses hukum dalam kasus wisma atlet. "Gak elok nantinya kalau sudah dijadikan tersangka baru mundur," seru Ruhut.
Meski meminta Anas mundur, namun Ruhut menyerahkan sepenuhnya kepada Anas. "Saya dulu tim suksesnya Anas, saya juga hargai asas praduga tak bersalah. Tapi saya ingin objektif kalau berbicara soal hukum. Saya nothing to lose untuk ini," ucap Anggota Komisi Hukum DPR RI ini. (inc/ari)