
Jakartapress.com - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Komunitas Suara Transjakarta menilai pelayanan bus Transjakarta makin buruk. Salah satu sebab karena rendahnya kualitas sumber daya manusia.
"Ada indikasi perekrutan pengemudi Transjakarta tanpa standar jelas. Diduga ada praktik suap agar diterima sebagai pengemudi. Di sisi lain, gaji pengemudi Transjakarta sudah tujuh tahun tidak naik," ungkap Tulus Abadi dari YLKI dalam jumpa pers Catatan Akhir Tahun Pelayanan Transjakara 2011 di Hotel Ambhara, Blok M, Jakarta Selatan, Rabu (21/12/2011).
YLKI menyimpulkan, dalam tahun 2011 kualitas pelayanan Transjakarta mengalami kemunduran. "Kelembagaan Transjakarta perlu diperluas sehingga kapasitas dan kewenangannya bisa lebih menjangkau hal-hal kecil, seperti pengadaan bahan bakar gas secara berkesinambungan," kata Tulus
Setelah sekian lama beroperasi, Transjakarta belum bisa menjadi transportasi massal andalan. "Waktu tunggu bus Transjakarta saja masih 5 menit sampai 10 menit, bahkan lebih. Antrean penumpang terkadang sangat padat, mengakibatkan waktu tunggu dan tempuh bisa amat lama sehingga mobilitas warga tetap saja tidak efektif," ungkap Tulus.
Hal senada juga disampaikan Komunitas Suara Transjakarta. Bahkan mereka mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera melakukan perbaikan. "Kami sempat berdialog dengan Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta, tapi tampaknya tak ada solusi juga. Padahal kondisi bus saat ini semakin memburuk," kata Pembina Komunitas Suara Transjakarta, Yanto Sugiharto.
Ternyata BLU Transjakarta tidak bisa cepat mengatasi penurunan pelayanan karena terbentur sistem birokrasi. Setiap ada persoalan, pihak BLU harus melakukan laporan dan menunggu persetujuan dari atasan baru dapat bergerak.
Yanto menilai, sebaiknya BLU diubah menjadi semacam Strategic Business Unit (SBU) yang mampu mengurus keuangan sendiri sehingga untuk perbaikan dan perawatan tidak perlu menunggu sistem birokrasi yang berbelit. Dengan demikian, kondisi bus akan nyaman.
"Sekarang ini kan tidak bisa seperti itu. Ibarat manusia, laparnya sekarang baru dikasih makan dua bulan kemudian. Sama seperti bus, butuh perawatan sekarang, uangnya baru turun dua bulan kemudian," kata dia.
Dia mengungkapkan perubahan sistem birokrasi ini perlu karena masyarakat sudah tidak dapat menunggu lagi perbaikan moda transportasi massal itu. "Apa harus tunggu jatuh korban dulu baru bertindak. Kasihan masyarakat banyak," ujarnya.
Perawatan yang kurang itu tampak pada Koridor I (Blok M-Kota) yang kondisi armadanya sudah tidak memadai lagi. Pendingin ruangan kerap bocor, pegangan bagi penumpang yang berdiri sudah copot dan lantai bus banyak yang mulai mengelupas. Maklum saja, usia armada di Koridor I ini sudah lebih dari lima tahun. [dam/fu]