
Jakartapress.com - Resepsi pernikahan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dan Siti Ruby Aliya Rajasa (Aliya) telah dilangsungkan tadi malam Sabtu (26/11/2011), tepat pukul 19.00 di Jakarta Convention Center. Nuansa Jogjakarta mewarnai pesta pernikahan tersebut. Ibas terlihat mengenakan surjan Jogja sedangkan Aliya memakai kebaya model tradisional yang dipadukan dengan kain motif batik Jogja.
Semua bernuansa Jogja termasuk pelaminan yang di desain dan dominan warna merah marun dan krem. Terdapat tenda berwarna krem dengan tatanan drapery yang dipasang di luar pintu masuk untuk menyambut tamu.
Di pintu masuk undangan dan penerima tamu, terpasang dua janur kuning berukuran besar sebagai 'gerbang' untuk memasuki ruangan pesta. Ditempatkan pula beberapa tanaman hijau dan dekorasi berbentuk semak-semak. Penataan lampu-lampu yang temaram menambah nuansa romantis dari pernikahan anak dua orang penting di Republik Indonesia ini.
Hingga pukul 18.31 WIB, para tamu sudah mulai berdatangan namun suasana belum terlalu ramai. Tepat pukul 19.00 WIB, pasangan pengantin Ibas dan Aliya memasuki ruang resepsi dan langsung naik ke pelaminan. Prosesi diawali dengan pembacaan surat Al-Fatihah yang dipimpin Profesor Dr Arief Rahman M.Pd.
Setelah pembacaan doa, para tamu pun langsung dipersilahkan bersalaman dengan pengantin dan orangtua kedua mempelai. Selama resepsi, para tamu dimanjakan musik-musik pop bernuansa romantis oleh Dian HP Orkestra.Adapun pengisi acara di pesta Vina Panduwinata, Mike Mohede, Dira Sugandi dan Rio Febrian.
Aliya tampak cantik mengenakan kebaya berwarna merah dari bahan lace dengan panjangnya hampir semata kaki. Desain kebayanya terlihat sederhana tapi tidak kehilangan keanggunannya. Nuansa mewah hadir dari detail bordir serta sedikit kristal dan manik-manik yang menghiasi hampir seluruh bagian kebaya.
Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, Aliya memakai riasan Paes Ageng hasil kreasi perias pengantin ternama Tienuk Riefki. Rangkaian bunga melati menghiasi rambutnya yang disanggul. Resepsi itu terasa berlangsung singkat tanpa tanpa ritual adat Jawa yang khusus. (tia/ln)