top
channel

Tanah Punthuk, Tanah Keramat


Tanah Punthuk, Tanah Keramat

TERKAIT

 

Jakartapress.com - Nyai Ageng Ngerang, satu-satunya wali wanita angkatan “Wali Songo”. Kesaktiannya setara wali lain. Satu warisannya, “Tanah Punthuk”, keramat dan gersang. Tanaman  tak bisa tumbuh, burung terbang diatasnya jatuh dan mati.

Ki Tunggakromo (61), berbekal “surat kekancingan” Kraton Kasunanan Surakarta, sudah belasan tahun jadi “juru kunci” makam Nyai Ageng Ngerang, di Desa Tambakromo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, sekitar 15 Km Selatan kota Pati. Sang juru kunci tinggal tak jauh dari makam, dia sangat fasih cerita soal riwayat Nyai Ageng Ngerang.

Nyai Ageng Ngerang adalah putri Sunan Kalijogo, cucu Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan (bidadari) dari trah Brawijaya V, Raja Majapahit akhir. Beliau, istri Kyai Ageng Ngerang, seorang wali sohib Sunan Muria, “Pasutri” ini giat berdakwah di Tambakromo, Pegunungan Kendeng, hingga akhir hayatnya.

Lima abad silam, Tambakromo masih belantara. Warga memeluk animisme. Nyai Ageng Ngerang aktif meng-Islam-kan warga dengan melakukan lawalata. Dia berjalan kaki jauh kepedalaman. Di beberapa tempat, dia mendirikan padepokan atau pesantren sebagai pusat syiar dan penggemblengan bathin.

Selendang Pusaka

Menjadi wali wanita, saat itu dibutuhkan mental-fisik tangguh. Terutama saat mengemban missi dakwah. Kerap jalan kaki puluhan kilometer, karena belum ada angkutan apapun, masuk daerah pedalaman berupa rimba raya. Belum lagi teror nyamuk, penyebar penyakit Malaria mematikan.

Nyai Ageng Ngerang memiliki mental baja dan kesaktiannya tinggi. “Dari neneknya, Dewi Nawangwulan, dia dapat warisan, selendang pusaka,” kata Ki Tunggakromo. Dengan selendang itu, suatu ketika Nyai Ageng Ngerang  menundukan ratusan banteng hutan yang menghadang perjalanannya.

Suatu saat Nyai Ageng Ngerang  hadir dipermusyawaratan para Wali. Seorang Wali menyindir, apa yang bisa diperbuat wanita kendati ia wali. Nyai Ageng Ngerang marah, menghunus selendang dilecutkan kelangit. Timbul ribuan percikan api, jatuh di wilayah sangat luas. Tempat-tempat jatuhnya api, kini jadi Kabupaten Pati. 

Tanah Punthuk

Sekitar aeratus meter Selatan dari makam Nyai Ageng Ngerang,  terdapat hutan Jati seluas  0,5 hektar. Disitu terdapat tanah aneh se;uas 2 x 2 meter. Diatasnya tak ada tumbuhan apapun. Padahal sekelilingnya, tumbuh perdu-perduan. “Jangankan tanaman, semut pun tak mau merayap diatasnya jika tak ingin mati,” tutur juru kunci 

Tempat yang dinamai “Tanah Punthuk” itu awalnya dipakai Nyai Ageng Ngerang bersemadi. Menurut juru kunci, lokasi itu sering dipakai orang “mendadar diri”. Misalnya, seseorang ingin jadi pejabat. Lalu bersemadi datas Tanah Punthuk. Jika tahan semalaman bersemadi, tanda cita-citanya akan tercapi.

Diingatkan Ki Tunggakromo, agar tak sembrono di “Tanah Punthuk”. Sebab selain keramat, lokasi itu juga dikenal gawat. Tumbuhan dan hewan tak bisa hidup ditanah itu. “Bahkan burung yang terbang diatasnya, akan jatuh dan mati,” tutur juru kunci ini dengan serius.    

Saat ini Ki Tunggakromo terobsesi dengan cita-cita ingin mendirikan Museum Nyai Ageng Ngerang, dilahan hutan jati Tanah Punthuk. Konsultasi dengan Kraton Surakarta tentang hal itu, sudah dilakukan. Pihak kraton yang erat memiliki pertalian darah dengan Nyai Ageng Ngerang,  merestui gagasan itu.

Dananya dari mana? Kata Ki Tunggakromo, setiap satu Syura dimakam Nyai Ageng Ngerang selalu diadakan haul dengan acara, “mengganti” kelambu makam Nyai Ageng Ngerang.  Ratusan ribu peziarah dari pelosok tanah air, menghadiri ritual ini. Dengan niat, ingin mendapat sobekan kain  bekas penutup makam.

Biasanya, juru kunci memotong-motong  kain kelambu lama sebesar 2 x 2 cm, lalu dibagi pada para peziarah. Mereka yang mendapatkan, diminta sumbangan, Rp 25.000. Dari sumbangan itu didapat hampir Rp 1 miliar.

Dengan dana itu, dalam tempo dua sampai tiga tahun pasti  museum bisa kita bangun.  Sobekan kain kelambu makam dipercaya membawa berkah keselamatan dan kemakmuran.

Ki Tunggakromo tidak mau menyebutkan benda apa saja yang akan disimpan di dalam museum. Benda-benda  itu kini dismpan di rumahnya. “Kalau saya rinci, nanti rumah saya disatroni maling.

Namun Ki Tunggakromo berkenan menunjukan “Keris Luk Tujuh”, dan kayu hitam mengkilap dinamai “Galih Asem”. Dua pusaka itu milik pribadi Nyai Ageng Ngerang. Pusaka kayu “Galih Asem”, konon bertuah untuk menundukkan segala jenis hewan buas.

Sejumlah benda pusaka, terutama puing-puing bekas bangunan padepokan Nyai Ageng Ngerang, berceceran di Desa Tambakromo. Malah kerap kali benda-benda itu membuat takut warga setempat. Misalnya, sepasang “Gelu Naga Kikik” yang sering berubah menjadi ular raksasa. [mari/fu]






KOMENTAR ANDA

Kontak KamiTentang KamiDisclaimerLowongan
Copyright © 2011 design by fonda > www.jakartapress.com