top
channel

Liong Disambar Petir, Jadi Pertanda Buruk


Liong Disambar Petir, Jadi Pertanda Buruk

TERKAIT

 

Jakartapress.com – Aneh. Dimusim kemarau ini. Tak ada hujan, tidak mendung. Tiba-tiba petir menyambar patung Naga atau Liong, diatas genting setinggi 30 meter, Klenteng Low Lie Bio, Kelurahan Manyaran, Semarang, awal Oktober 2011 lalu. Benarkah itu pertanda buruk ?

Beberapa pekerja klenteng umur 80 tahun ini menuturkan, saat itu menjelang senja hari, awal bulan Oktober 2011. Langit tampak cerah. Tak ada awan, apa lagi gumpalan mendung tanda akan hujan.

Sekonyong-konyong muncul gelegar petir. Ekor kilatannya, mengarah pada ujung atas genting Klenteng ‘Low Lie Bio’ sebelah Utara.

Diatas genting klenteng, terdapat sejumlah hiasan khas klenteng. Diantaranya yang utama, berupa sepasang Liong, berhadapan disisi Utara dan Selatan. Ditengahnya, terdapat ‘bola api’. Ornamen inti ini dan yang lain digenting klenteng, mengandung (simbol) kekuatan supranatural/magic sebuah klenteng. 

Menjelang senja, awal Oktober 2011. Langit cerah,  disebagian angkasa, mengambang awan tipis. Sementara, udara siang yang gerah, mulai beralih sejuk. Para pekerja Klenteng ‘Low Lie Bio’, juga acap disebut “Klenteng Kebonjeruk”, waktu itu seperti hari-hari biasa, masing-masing sibuk dengan pekerjaannya.

Sekonyong-konyong dari arah genting atas bagian Utara klenteng, terdengar ledakan menggelegar. Semula dikira bunyi dentuman “travo” milik PLN meledak. Tetapi serentak para pekerja klenteng menengok keatas dari halaman klenteng. Tampak pemandangan yang mengejutkan campur menakutkan. Ledakan itu ternyata petir, menghantam ekor arca Liong disisi Utara, sampai putus berantakan.

Para pekerja termasuk “bio-kong” (juru kunci klenteng), tertegun melihat kejadian itu. Sama sekali tak menyangka, dimusim kemarau kering, tanpa diawali mendung atau hujan setitikpun. Mendadak muncul halilintar, menyambar arca Naga diatas genting klenteng. Hingga akhir Oktober 2011, arca Liong diatas Klenteng ‘Low Lie Bio’, tampak masih buntung. Tersisa, kepala dan perutnya saja.

Pasir Khusus dari Bali

Seorang pekerja klenteng berkata, banyak ahli bangunan khusus klenteng dikontak, agar mrerenovasi Liong yang buntung itu. Semua angkat tangan, menjawab tak mampu memperbaiki arca itu. Satu diantaranya berkata, dia bisa membuat ‘ekor baru’ pengganti ekor Liong yang putus. Namun tak sanggup untuk menempelkannya, sampai tampak utuh kembali.

Lewat berbagai informasi dan “petunjuk dari klenteng” itu sendiri, akhirnya diperoleh delapan ahli bangunan dari Bali. Sejak minggu ke-tiga Oktober 2011, kedelapan tukang itu sudah berada di Klenteng ‘Low Lie Bio’, melakukan observasi pada pekerjaan yang akan dilakukannya. Mereka membenarkan, sangat sulit menempelkan ‘ekor baru’ ke tubuh Liong yang putus ekornya tersebut.

Untuk keperluan itu, harus didatangkan secara khusus, bahan bangunan campuran berupa pasir dari bumi Bali. Dengan campuran pasir dari Bali itu, para tukang itu menjamin ekor baru akan tertempel kuat pada tubuh Liong. Untuk sementara, para tukang asal Pulau Dewata tersebut, belum bekerja. Mereka tengah menunggu kiriman pasir dari Bali.

Pertanda Buruk    

Beberapa orang bergumam, mengomentari peristiwa yang musykil tersebut. “Masak, tak ada hujan, tak ada mendung, timbul petir menyambar Naga diatas klenteng ?”, demikian bunyi gumaman itu. Diantaranya malah menengarai, peristiwa itu merupakan firasat kurang baik. Bakal menimpa negara kita.

Seorang ‘Suhu’ tinggal di Semarang berkata, Ekor Liong ibarat ‘rakyat’ yang berada dibelakang pemimpin. Ekor berantakkan disambar petir, adalah isyarat keadaan rakyat akan berantakan dihari-hari kedepan. Kehidupan rakyat mungkin lebih menderita dalam soal ekonomi ; Atau berantakan terpecah belah, akibat pengaruh perpolitikan pra-pemilu mendatang.

Jika ditilik dari fungsinya, bisa merupakan isyarat lain. Fungsi ekor, adalah mengemudikan arah. Dalam hal ini, ekor terbaca sebagai para pemimpin yang tugasnya mengemudikan negara. Karena ‘hukum alam’ berupa petir, para pemimpin jadi berantakan. Sebabnya ? ‘Bisa berbagai hal penyebabnya. Banyak yang korup dan banyak masuk bui, membuat negara berantakan’, jawab Suhu ini. [mari/fu] 






KOMENTAR ANDA

Kontak KamiTentang KamiDisclaimerLowongan
Copyright © 2011 design by fonda > www.jakartapress.com