top
channel
SUPERNATURAL | FENGSHUI | HOROSKOP
Minggu, 30 Oktober 2011 - 20:28

Tiang Masjid Demak Dijadikan Jimat


Tiang Masjid Demak Dijadikan Jimat

TERKAIT

 

Jakartapress.com– Malang nasib empat soko guru, bekas penyangga Masjid Agung Demak, buatan ‘empat wali’ berusia lebih lima abad ini. Atasnya hancur dikencingi ribuan kelelawar, dan bawahnya lebur digerogoti jutaan rayap, selama ratusan tahun. Setelah dimuseumkan, masih ‘dicuili’ para peziarah, untuk dijadikan azimat ampuh.

Menurut riset IAIN Walisongo (1973), empat soko guru itu karya empat dari sembilan Wali. Masjid ini didirikan Ki Ageng Selo, ditandai dua daun pintu bergambar ‘Bledeg’ atau petir yang biasa disebut Pintu Bledheg. Pintu itu milii ukiran berbunyi, ‘Nogo Mulat Sariro Wani’. Bermakna tahun Caka 1388, atau tahun Masehi 1466.

R.Fatah pendiri Kesultanan Demak, memugar masjid tahun 1475. Renovasi kedua tahun 1478, melibatkan para Wali. Empat Wali  menyumbang ‘empat soko guru’ atau tiang utama. Sunan Ampel, soko guru sisi Tenggara. Sunan Gunungjati, sisi Barat Daya. Sunan Bonang, sisi Barat Laut. Dan Sunan Kalijogo, sisi Timur Laut.

Tahun 1980, diketahui posisi masjid miring. Kemudian diketahui penyebabnya, karena empat soko guru mengalami aus berat. Soko guru tinggi 19,54 meter dengan garis tengah 1,45 meter itu ; Bagian atasnya hancur dikencingi ribuan Kelelawar, dan bawahnya jadi bubur diserbu jutaan Anai-anai. Itu berlangsung selama lima ratus tahun tiada henti.

Guna menyelematkan bangunan masjid bersejarah ini, pemerintah memutuskan, memugar besar-besaran di tahun 1983. Titik berat renovasi, mengganti empat soko guru. Saat itu, penggantian soko guru masjid tidak diinformasikan pada masyarakat. Jika dijelaskan,  khawatir terjadi gejolak berbau ‘Sara’.

Empat tiang pengganti soko guru, dari pohon jati utuh usia 200 tahun. Diambil dari hutan ‘Pasar Sore’, Kesatuan Pemangkuan Hutan Cepu-Blora. Khusus soko guru karya Sunan Kalijogo, populer disebut ‘soko tatal’ karena terbuat dari serpihan kayu, yang kemudian diikat dibentuk menjadi tiang.

Dikerat Untuk Jimat

Soko guru lama dipensiun, setelah bertugas selama 500 tahun lebih. Bersama benda kuno lain, termasuk sepasang Pintu Bledheg, soko guru disimpan di Museum Masjid Demak. Saat itu kondisi museum masih sederhana, disisi Timur masjid.  Soko-soko guru itu, digeletakkan begitu saja dihalaman terbuka dekat museum.

Masjid dan museum operasional 24 jam nosntop. Ribuan peziarah dari pelosok tanah air, tiap hari siang-malam mengalir. Celakanya, banyak peziarah usil, terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, berusaha mencuil kayu soko guru. Petugas harus selalu berjaga-jaga, mencegah keusilan peziarah. Sebab jika dibiarkan, lama-lama soko guru itu habis tandas, saban hari dikerati orang.

Orang berusaha mengerat soko guru. Karena percaya serpihan kayu itu bertuah. Sebab warisan wali yang diyakini wakil Allah. Apapun bentuk karya seorang wali, dipercaya berdaya ghaib amat tinggi. “Kepingan kayu saya dapat dari soko guru itu, akan saya gunakan sebagai azimat pelarisan”, tutur Kusmari (40), peziarah asal Kediri, Jawa Timur.

Beberapa peziarah yang dapat cuilan kayu soko guru, memberi berbagai alasan atas tindakannya itu. Ny Narsilah (31) dari Karawang contohnya, akan memakainya untuk azimat penyembuhan. Jika dia atau anggota keluarganya sakit. Cuilan kayu itu direndam, airnya diminum untuk obat. “Saya yakin, penyakit akan hilang”, ujarnya.   

Para petugas museum akhirnya lelah bertahun-tahun harus memelototkan mata mengawasi peziarah, agar tak mengusili soko guru.  Lalu ditempuh upaya mengamakan dengan menempatkan soko guru dalam kerangkeng besi. Setelah itu, keamanan kayu soko guru relatif lebih terjamin. Tapi terkadang masih ada yang nekat. Tangan peziarah masuk jeruji besi, berusaha mengerat kayu soko guru.

Mulai awal tahun 2012, soko guru direkonstruksi, diberdirikan lagi dalam museum baru yang kini hampir usai pembangunannya dikompleks masji. Masing-masing soko guru, akan ditegakkan pada posisi semula, seperti ketika masih menyangga masjid. Yang menarik, “soko tatal” buatan Sunan Kalijogo, sepertinya tinggal satu meter, merupakan sisa-sisa serpihan kayu tatal.

Melihat posisi/situasi empat soko guru dalam museum baru, begitu terbuka nyaris tanpa pembatas dengan pengunjung. Dicemaskan mengundang penyakit lama dan selera usil oknum pengunjung, untuk main kerat pada soko guru itu. Seiring perjalanan waktu dan perubahan, semoga tak ada lagi hal-hal yang merugikan dan memalukan seperti itu. [mari/f]






KOMENTAR ANDA

Kontak KamiTentang KamiDisclaimerLowongan
Copyright © 2011 design by fonda > www.jakartapress.com

DMCA.com