top
channel

Shanty, Sempat Paranoid Urus Anak


Shanty, Sempat Paranoid Urus Anak

TERKAIT

 

Jakartapress.com - Sejak menikah dan melahirkan seorang putra, penyanyi Shanty otomatis meninggalkan segala kegiatan keartisanya. Shanty mengaku lebih menyukai merawat Arjuno, sang buah hati yang masih berusia enam bulan.

Shanty mengaku dari semua profesi dan pekerjaanya yang telah dijalankanya selama 14 tahun, menjadi ibu adalah hal yang paling indah yang pernah dilakukan.

“Dari semua profesi dan pekerjaan yang saya jalani selama 14 tahun itu, sejujurnya menurut saya menjadi ibu adalah yang terberat. Tapi juga the most beautiful, the most rewarding job ever,” ceritanya.

Meski harus merawat putranya dari hasil buah cintanya dengan pengusaha Sebastian Paredes selama 24 jam, Shanty tak merasakan lelah.  "Menjadi ibu, harus fokus. Saya benar-benar harus mencurahkan perhatian saya 24 jam. Benar-benar memperhatikan anak sampai sekecil-kecilnya," akunya.

Saat diboyong suaminya untuk tinggal di Hong Kong, Shanty merasakan kebingungan untuk merawat anak pertamanya. Pasalnya sang ibunda jauh tinggal di Indonesia, sehingga otomatis Shanty merawat Arjuno seorang diri.

"Sempat bingung juga, karena saya, kan tinggal di Hongkong bersama suami saja, jauh dari ibu. Dan ini pengalaman pertama saya," lanjutnya.

Dan untuk maksimal merawat Arjuno, Shanty mengandalkan membaca artikel-artikel baik dari buku dan internet tentang memahami bayi.

"Semuanya benar-benar saya olah sendiri, saya belajar sendiri. Sebulan pertama, saya benar-benar paranoid dengan yang namanya SID (sudden infant death-red). Jadi hampir setiap menitnya, saya mengecek, bernapas nggak? Menyusunya benar enggak? Dia cukup makan atau tidak? Menggendong pun sempat takut," Bebernya.

Shanty lantas membagi cerita, sebulan pertama bersama Arjuno banyak kejadian menghebohkan dan membuatnya terkejut. Shanty bahkan merasa tidak Pe-de apakah caranya sudah tepat dalam merawat si buah hati. "Saya mengalami baby blues syndrome. Dua setengah minggu menangis melulu. Enggak mengerti kenapa. Apa yang saya rasakan khawatir dan khawatir," lanjutnya.

Meski merasa 'lebay', Shanty menganggap perasaan khawatir akan Arjuno merupakan hal yang wajar. Namun bila perasaan khawatirnya kembali muncul, sang suami kerap mengambil alih peran Shanty dalam merawat Arjuno.

"Selama saya mengalami baby blues syndrome, dia mengambil alih. Katanya, ‘Sudah, kamu istirahat saja. Bayinya sama saya.’" kata Shanty menirukan ucapan sang suami.

Sebagai seorang suami, Shanty menilai apa yang dilakukan Sebastian sangatlah luar biasa. Sebastian tak hanya menjadi suami yang baik, tetapi sekaligus menjadi ayah yang sempurna untuk Arjuno.

"Sebagai suami dan ayah, Sebastian luar biasa. Untuk sementara waktu, dia yang menggendong Juno, menenangkan Juno kalau menangis, dia begadang, padahal besok paginya bekerja lagi. Dia juga yang memulihkan saya dari emosi dan kesedihan yang enggak terkontrol itu," bebernya lagi.

Saat ini Shanty sudah mulai terbiasa merawat Arjuno. Bahkan Shanty mulai mengajarkan Arjuno berbagai bahasa yakni Inggris dan Indonesia. Shanty mengakui Arjuno senang sekali 'mengoceh' oleh itu pelajaran bahasa sangat penting bagi Juno sebutan sayang Arjuno untuk berkomunikasi.

“Mengocehnya banyak sekali. Sekarang sudah bisa bilang ‘Mama’. Bapaknya kalau bicara pakai bahasa di Ekuador (bahasa nasional Ekuador adalah bahasa Spanyol-red). Dari kecil, Juno sudah dibiasakan untuk mendengar ragam bahasa dari ibu dan ayahnya," tutup Shanty. [ida/f]






KOMENTAR ANDA

Kontak KamiTentang KamiDisclaimerLowongan
Copyright © 2011 design by fonda > www.jakartapress.com