
PENGAMAT politik dari Universitas Indonesia (UI) Andrinov Chaniago mengaku kecewa dengan pola reshuffle yang dilakukan Presiden SBY kali ini. Menurutnya, kabinet ini hanya menambah sumberdaya untuk menutupi kelemahan politik.
“Katanya mau buat kabinet efektif tapi menggunakan tepo seliro dan tengang rasa. Reshuffle ini hanya menambah sumberdaya untuk menutupi kelemahan politik sehingga ditutupi dengan menambah biaya,” tandas Andrinov di Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (14/10/2011).
Ia pun mengungkapkan, seandainya reshuffle dilakukan dengan baik, itu saja tidak cukup. Gaya menjaga gawang ala Presiden, harus diubah menjadi penyerang, menjadi pengerak, dan motor kepada menteri dan pemerintah daerah. Tidak cukup instruksi-instruksi seperti selama ini. Berikut petikan lengkap wawancaranya.
Apa komentar Anda terkait dengan proses reshuffle saat ini yang tengah berlangsung?
Yang pasti kecewa, katanya mau buat kabinet efektif tapi menggunakan tepo seliro dan tengang rasa. Reshuffle ini hanya menambah sumberdaya untuk menutupi kelemahan politik sehingga ditutupi dengan menambah biaya.
Kalau menteri yang tidak mampu itu diganti yang mampu, itu kan selesai. Pos kok ditambah. Ini kan untuk menutupi persoalan menteri terkait kesehatan, usia, dan soal moral, kasih saja pos ke yang lain, tidak perlu tambah pos wakil menteri.
Bagaimana dengan efektivitas kabinet dengan adanya Wakil Menteri?
Bisa dua kemungkinan, dalam praktiknya selama ini, justru pembagian kerja tidak jelas. Kalau pembagian jelas, bisa bekerja. Ditambah orang, persoalan yang lama di kementerian dianggap tidak ada.
Apakah faktor leadership Presiden menjadi penting dalam kinerja pemerintahan pasca reshuffle ini?
Seandainya reshuffle dilakukan dengan baik, itu saja tidak cukup. Gaya menjaga gawang ala Presiden, harus diubah menjadi penyerang, menjadi pengerak, dan motor kepada menteri dan pemerintah daerah. Tidak cukup instruksi-instruksi seperti selama ini.
Bukan dengan gaya koordinasi, tapi harus ikut ke tengah lapangan dengan menggerakkan. Itu kalau reshuffle-nya benar. Tapi kalau reshuffle sekarang, tidak memecahkan masalah. Kita tidak tahu bagaimana dengan janji perbaikan. Karena reshuffle masih mengakomodasi personal dan politik.
Bagaimana dengan menteri yang terindikasikan kasus korupsi?
Saya melihat itu dijadikan keputusan terakhir, sekarang Presiden cari aman dulu. Sengaja ditaruh ke belakang. Yang jelas diarahkan pengisian Wakil Menteri ada masalah dari menterinya termasuk ketidakmampuan.
Apakah kabinet pasca reshuffle akan membaik dibanding dua tahun terakhir?
Membaik jelas tidak mungkin. Tapi akan seperti biasa-biasa saja seperti dua tahun terakhir ini. (Inilah/Jakpress)