
Jakartapress.com – Di tengah maraknya gonjang-ganjing rotan impor, dan disaat gencarnya produk rotan sintesis, para perajin rotan berusaha bertahan menyodorkan karyanya di ibukota.
Di ujung Jalan Utan Kayu ada lima perajin furniture rotan. Mereka mencoba tetap eksis di tengah maraknya furniture kontemporer. Sutan (52), satu diantara mereka sudah lebih dari 25 tahun tetap setia melakoni bisnisnya ini.
“Dagang di sini baru sepuluh tahunan, tadinya di Rawasari. Karena kena gusur, pindah ke sini,” ungkap pria asal Tegalwangi, Cirebon ini memulai kisahnya.
Kios Sutan berdiri di trotoar jalan di atas saluran air yang ditutup kayu. Sudah tiga tahun ini Sutan ditemani Jaelani (25), putra sulungnya. “Dia berhenti kerja, katanya ingin meneruskan usaha ini. Jadi pedagang lebih menarik dibanding jadi karyawan,” ujar pria paruh baya mengutip alasan anaknya ikut dagang furniture rotan.
Meskipun baru tiga tahun jadi terjun jadi pedagang furniture rotan, sepertinya Jaelani sudah menguasai seluk beluknya. “Di sini baru tiga tahun tapi di kampung dari kecil sudah terbiasa dengan rotan. Istilahnya, di sini cuma showroom-nya saja, di kampung juga ada pabrik dan showroom,” ungkap Jaelani.
Menurut Jaelani, semua produk rotan yang digelar di Utan Kayu adalah produk “Jaelani Rotan” di Tegalwangi, Cirebon. “Semua yang dagang di Jakarta dan Bekasi asalnya dari Cirebon. Masih satu kampung, rata-rata dari Tegalwangi,” cerita Jaelani.
Jaelani Rotan adalah pabrik atau workshop milik ayahnya. Ada lima orang perajin rotan yang setiap hari memproduksi beragam furniture sesuai pesanan. “Rotan mentah kita pesan dari Kalimantan. Kemudian diolah di Cirebon, hasilnya di jual di sini,” ujar pedagang muda ini.
Ada belasan model perabot rumah tangga dari rotan yang dijual. Mulai kursi tamu, sofa, lemari, sketsel, meja hingga hula hoop. Harga hula hoop dibandrol Rp 15 ribu, sementara perabot lain harganya bervariasi mulai Rp 30 ribu sampai Rp 2 juta. “Kita juga melayani pesanan. Modelnya sesuai permintaan,” ungkap Jaelani yang akan memasang harga khusus untuk pesanan khusus ini.
Selain Jaelani dan ayahnya, empat pedagang lain juga menerima jasa servis furniture rotan. “Biasanya kursi anyaman rotan yang di servis. Karena sudah tua, anyaman rotannya rusak,” papar Jaelani yang pasang tarif Rp 40 ribu untuk servis satu anyaman kursi rotan.
Untuk meningkatkan penjualan, Jaelani sudah sering ikut pameran. “Tapi masih numpang sama teman. Dia yang ikut pameran, saya nitip barang. Lumayan, setiap pameran pasti ada yang terjual. Saya juga sudah manfaatkan facebook untuk jualan,” ceritanya.
Meskipun setiap hari ada saja dagangannya yang laku terjual, namun Jaelani mengaku penjualannya tidak meningkat. Malah cenderung turun. “Menurut bapak saya, dibanding sepuluh tahun lalu, belakangan ini semakin merosot saja. Mungkin orang kurang tertarik beli rotan,” paparnya.
Untuk meningkatkan penjualan, Jaelani sebagai penerus usaha ayahnya harus memiliki terobosan baru. Salah satu caranya, dia sering browsing internet melihat-lihat model terkini produk rotan. “Biar tidak ketinggalan jaman modelnya harus diganti-ganti. Saya juga kombinasikan dengan rotan sintesis untuk anyaman,” ujarnya.
Rotan sintesis yang dimaksud adalah semacam rotan plastik biasa digunakan untuk jok kursi atau menghias tangan kursi dan lainnya. Selain lebih murah, rotan sintesis mudah dirawat dan bisa dicuci. “Saya pakai hanya untuk variasi saja,” papar Jaelani.
Jika ada dagangannya yang sudah lama tidak laku sehingga model tidak up to date lagi, Jaelani akan memberikan potongan harga sampai 60 persen. Biasanya “sale” ala Jaelani dilakukan di saat ikut pameran saja. [ara/f]