top
channel
SUPERNATURAL | FENGSHUI | HOROSKOP
Kamis, 22 September 2011 - 01:51

Watu Pinabetengan, Batu Pemersatu, Batu Spiritual


Watu Pinabetengan, Batu Pemersatu, Batu Spiritual

TERKAIT

jakartapress,- Watu Pinabetengan, batu besar yang dikramatkan ‘suku’ Minahasa. Goresan di batu ini pun jadi bukti tingginya nilai-nilai peradaban suku minahasa, sejak 1000 tahun sebelum masehi. Namun begitu, cerita magis sekitar batu alam tua tersebut, juga ikut membubuhi spiritual 'watu' kramat tersebut.

Watu Pinabetengan atau ‘Batu Tempat Pembagian’, salah satu situs kehidupan masa lampau suku Minahasa, Sulawesi Utara.  Batu ini pun membuktikan dinamika peradaban suku Minahasa, sekitar 1000 tahun Sebelum Masehi (SM), yang sudah memiliki konsep perundingan dalam menyelesaikan pertikaian.

Para arkeolog  menyatakan Watu Pinabetengan adalah batu besar tempat para kepala suku Minahasa bernegosiasi, berunding untuk mencari solusi dalam menciptakan perdamaian.

Di tempat inilah, sekitar 1000 SM terjadi pembagian sembilan sub etnis Minahasa yang meliputi suku Tontembuan, Tombulu, Tonsea, Tolowur, Tonsawang, Pasan, Ponosakan, Bantik dan Siao.

Goresan-goresan di batu tersebut membentuk berbagai motif dan dipercayai sebagai hasil perundingan suku-suku pada saat itu. Motifnya ada yang berbentuk gambar manusia, gambar seperti alat kemaluan laki-laki dan perempuan, motif daun dan kumpulan garis yang tak beraturan tanpa makna.

Bongkahan batu besar alamiah ini ternyata juga menyimpan sisi magis yang religi. Tak jarang banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang untuk berziarah, mengajukan permohonan melalui ritual-ritual tertentu.

Menurut juru kunci Watu Pinawetengan, Ari, banyak turis mancanegara yang berziarah di tempat ini, biasanya dari Belanda, Jerman, Australia dan Inggris. Menurutnya mereka yang dating,  biasanya punya permohonan masing-masing, dan batu ini dipakai sebagai sarana untuk mendekat pada Sang Pencipta.

Diakuinya, seperti kisah salah satu turis dari Belanda, Jacob Rygeesberg, yang menderita lumpuh dan dibawa ke tempat ini dengan tongkat. Lalu dia bertekad setelah melihat batu ini, maka ia akan berjalan. "Memang saat itu, perlahan dia melempar tongkatnya dan berjalan tertatih hingga akhirnya benar-benar berjalan normal," kata Ari.

Beberapa kejadian aneh, menurutnya, juga sering terjadi di tempat ini seperti orang terlempar keluar area, mobil berjalan sendiri, ada yang memukul dari belakang. "Biasanya kalau kejadian seperti itu karena yang berkunjung sudah memiliki niat tidak baik," jelasnya.

Para wisatawan asing yang ingin berziarah dan melakukan ritual tertentu biasanya didampingi oleh guru spiritual mereka. Dalam bahasa masyarakat sekitar lokasi tersebut, pendamping ritual itu biasa disebut tonhas atau "orang pinter". Tetapi bagi wisatawan lokal biasanya membawa tonaas dari tetua adat penduduk sekitar.

Juru kunci obyek wisata tersebut memang mengakui banyak wisatawan asing yang berkunjung ke tempat itu hingga bermalam. Ada bekas hio atau pembakaran kemenyan di sekitar batu megalit itu. "Memang tak ada batasan mau berkunjung hingga jam berapa, yang penting mengikuti aturan di sini, seperti melepas alas kaki untuk masuk ke area dan tak punya niat yang jahat."

Bahkan beberapa orang yang rutin mengunjungi Watu Pinawetengan, ada ritual khusus yang diadakan tiap 3 Januari untuk melakukan ziarah. Sementara itu, karena nilai sejarah dan budaya yang kental, tiap 7 Juli dijadikan tempat pertunjukan seni dan budaya yang mulai terkikis di Minahasa.

Batu ini bisa dikatakan tonggak berdirinya subetnis yang ada di Minahasa dan menurut kepercayaan penduduk berada di tengah-tengah pulau Minahasa. “Nilai sejarah, budaya dan religiusnya sangat kental, maka cagar budaya ini harus tetap dirawat dan itu tugas kita bersama," jelas Ari. (lapod/Pusat Budaya Minahasa)






KOMENTAR ANDA

Kontak KamiTentang KamiDisclaimerLowongan
Copyright © 2011 design by fonda > www.jakartapress.com

DMCA.com