
Jakartapress.com – Sudah lebih 20 tahun, Sinaga mangkal di median jalan menjual pisang barangan. Selain bisa menghidupi keluarga, dia juga mampu menggaji 4 anak buahnya.
Jika Anda sering melintas di Jalan Kayu Putih Raya dari Kelapa Gading menuju Rawa Mangun, pasti pernah melihat barisan rak kayu tempat menggantung ratusan sisir pisang. Pisang-pisang itu milik Sinaga (47), juragan pisang Barangan.
Sekitar tahun 1980-an, Sinaga yang masih bujangan sudah bertarung nasib di Jakarta. Pria asal Medan, Sumatera Utara ini menjadi pedagang rokok dan mangkal di tempatnya kini berdagang. “Saya jual rokok dan minuman ringan. Eh ada orang mau nitip pisang. Karena gak pakai modal, saya mau aja dititipi pisang barangan. Untungnya lumayan,” cerita ayah dari tiga anak ini.
Awalnya Sinaga hanya menjual beberapa sisir pisang barangan di gerobak rokoknya. Ternyata saat itu tidak banyak orang yang menjual pisang jenis ini. “Lumayan lakunya. Jalur di sini kan juga ramai,” papar Sinaga yang kemudian bisa berhubungan langsung dengan petani pisang barangan di Siantar, Sumatera Selatan.
Sejak mendapat suplai langsung dari Siantar, pria bersahaja ini menjadi distributor pisang barangan ke beberapa tempat. “Banyak pedagang yang ambil di sini, dari Klender, Kalimalang dan Kebon Jeruk. Saya juga punya langganan empat katering dan tiga Rumah Makan Padang,” ungkap Sinaga yang bisa jual minimal 300 sisir sehari.
Dari hasil jual pisang saja, Sinaga bisa menghidupi keluarganya dengan layak. Dia bisa membeli sebuah rumah di Jl. Kayumas Raya, punya dua mobil pick up untuk operasional dan sebuah minibus untuk keluarga. “Anak saya sedang kuliah semester tujuh. Semuanya dibiayai dari jual pisang ini,” ungkapnya.
Lapak Sinaga buka nonstop 24 jam. Namun dia hanya menunggu dari pagi hingga menjelang sore. “Kalau pagi buka dan malam tutup repot merapikan lagi dagangannya. Sekalian aja buka terus. Tutupnya kalau ada larangan dari Satpol PP aja,” ungkapnya.
Meskipun lapaknya tergolong kaki lima di pinggir jalan, namun Sinaga memiliki empat orang karyawan. Masing-masing dibayar Rp 60 ribu sehari. Mereka bergiliran dapat tugas menjaga lapak hingga pagi hari.
Selain katering dan rumah makan padang yang sudah menjadi langganan tetapi, setiap hari banyak pengguna jalan berhenti sebentar untuk membeli satu atau dua sisir pisang barangan. “Mereka suka pisang ini karena beda dengan pisang lain, tidak lembek dan bisa buat obat maag dan diare,” ungkap Sinaga.
Busuk Dijalan
Jika stok pisangnya sudah mulai menipis, pengusaha kaki lima dengan omzet lumayan besar ini cukup telepon saja. Beberapa hari kemudian satu truk pisang dari Siantar sudah tiba di lapaknya.
Biasanya ribuan sisir pisang yang baru datang itu masih hijau. Semua masuk peti besar untuk diperam dengan karbit selama satu hari. Kemudian dipajang di rak kayu pinggir jalan. “Satu dua hari nanti warnanya berubah kuning,” papar Sinaga.
Bagi Sinaga, tidak banyak kendala dalam melakoni usahanya, asalkan sabar dan tidak malu cari nafkah di pinggir jalan. “Anak dan keluarga saya merasa bersyukur, meskipun bapaknya nongkrong di pinggir jalan, tapi menghasilkan uang,” ujar Sinaga sambil tertawa lepas.
Meskipun semuanya berjalan lancar, namun ada dua masalah yang kadang-kadang muncul. “Pertama kalau jalur angkutan macet, pisangnya bisa busuk di jalan. Kedua kalau ada kunjungan pejabat di daerah sini, saya terpaksa libur satu dua hari,” ungkapnya.
Jika usahanya berjalan terus, Sinaga sudah berniat regenerasi kepada salah seorang putranya. Setiap hari putra keduanya itu ikut membantu melayani pembeli sambil belajar jadi bandar muda. [fr/fu]