
Jakartapress.com – Belasan tukang jahit kaki lima di sisi Jalan Manggarai Utara I, sejak pertengahan puasa ‘panen’ rejeki. Bahkan tiga hari jelang lebaran, mereka terpaksa tolak order lantaran ‘overload’.
Sebuah taman kecil dan gersang di sisi Jalan Manggarai Utara I sudah belasan tahun menjadi tempat mangkal belasan tukang jahit kaki lima. Mereka hanya terima order permak pakaian saja.
“Pendekin celana, tambal yang robek, pasang badge seragam sekolah, tapi kadang-kadang terima kecilin pinggang celana juga,” papat Tarsono (38) yang sudah tiga tahun mangkal di sana.
Dihari-hari biasa, menurut Tarsono, dapat lima konsumen saja sudah beruntung. Tapi di bulan puasa, apalagi menjelang lebaran, konsumen yang datang berlipat-lipat. “Sehari lebih dari seratus orang datang. Ada yang dari Depok dan Bekasi,” ungkap Tarsono.
Konsumen yang datang biasanya mereka yang baru membeli pakaian untuk lebaran. Karena ukurannya tidak pas, misalnya celana yang terlalu panjang, mereka minta dipendekkan.
Dan urusan memendekan celana memang menjadi keahlian Tarsono Cs. Seminggu sebelum lebaran, sejak pagi hari belasan motor sudah parkir di sisi jalan. Pengemudinya duduk-duduk di kursi kayu yang disediakan menunggu celananya kelar di-vermak.
Sejak pagi, tidak ada satupun tukang jahit disana yang tampak santai atau bengong, semuanya sibuk merampungkan ‘tugas’. “Kalau nggak kerja cepat rejeki bisa lewat, lagian kasian, orangnya nungguin,” papar Mimin (35), yang terpaksa tidak pulang kampung demi menangkup untung.
Pria asal Cirebon. Sudah tiga tahun belakangan tidak merayakan lebaran bersama keluarga. Ayah dua anak ini memilih lebaran di Jakarta sambil mencari nafkah. “Sebelum puasa saya sudah pulang. Nanti habis sholat Ied saya baru pulang kampung,” paparnya.
Hampir semua penjahit di sana melakukan hal yang sama. Usai sholat Ied di Jakarta, kemudian mereka pulang kampung bareng. “Lebaran di kampung memang penting, tapi lebih penting lagi cari duit. Orang rumah juga senang kalau kita datang bawa uang banyak,” ungkap Mimin.
Saat-saat menjelang lebaran adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Dalam sehari mereka bisa mengerjakan sekitar 40 orderan memendekkan celana. “Khusus sekarang ini, kita hanya terima kerjaan mendekin celana, kerjaan lain terpaksa ditolak,” papar Mimin yang hanya butuh sepuluh menit untuk satu orderan.
Soal ongkos, tergantung dari jenis bahan celananya. Untuk bahan standar seperti celana jeans dipatok antara Rp 5.000 sampai Rp 10.000. Sementara untuk bahan yang lebih halus dan licin bisa lebih dari Rp 10.000. “Kalau bahannya licin, mengerjakannya lebih sulit,” ujar Mimin.
Banyaknya konsumen yang datang juga memberikan rejeki bagi beberapa pemuda di sana. Mereka menjadi juru parkir dadakan. Lahan panjang 30 meter itu dibagi tiga. Masing-masing dapat jatah uang parkir dari kendaraan yang diparkir di ‘wilayahnya’.
Menariknya, konsumen yang datang tidak hanya dari kalangan menengah bawah. Mereka yang sudah mapan pun ikut memanfaatkan jasa vermak celana itu. Terbukti setiap hari ada saja mobil keluaran terbaru parkir di sana.
“Yang turun bukan sopirnya, tapi yang punya mobil. Celananya juga mahal-mahal, masih ada bandrol harganya. Nah, yang kayak gini orangnya royal. Kalau dia tanya berapa ongkosnya, saya bilang terserah aja. Pasti dia kasih paling dikit noban (Rp 20 ribu),” ucap Mimin senang.
Meskipun hanya dua minggu menangkup rejeki Ramadhan, Mimin dan teman-teman seprofesinya merasa bersyukur. Setelah lebaran nanti, mereka akan menghadapi rutinitas seperti semula, menunggu pelanggan yang datangnya tidak pasti. [fr/f]