top
channel

Asinan Kamboja, Jajanan Kesohor Jakarta


Asinan Kamboja, Jajanan Kesohor Jakarta

TERKAIT

 

Jakartapress.com  - Warungnya ‘tersembunyi’ tapi Asinan Kamboja sudah cukup kesohor. Asinan Kamboja berupa potongan sayur kol, tauge, daun selada, mentimun, tahu, dan krupuk yang dicampur dengan sambal kacang.

Selain asinan sayuran, di warung yang berdiri sejak tahun 1960-an itu juga ada asinan buah yang isinya nanas, bengkoang kedondong, dan mangga. Seluruh rasa ada di sana. Manis dari gula merah, pedas dari cabai, asin dari garam, dan asam dari cuka dan buah-buahan yang masam. Semua bercampur jadi satu, segar.

Warung asinan tersebut letaknya di perumahan warga di Jalan Kamboja persis di seberang rumah sakit Persahabatan, Jakarta Timur. Perintisnya adalah H. Mansur. Saat ini warung asinan Kamboja itu dikelola oleh anak-anak H. Mansur, karena pak haji telah meninggal dunia pada tahun 2008. Salah satu yang turut melanjutkan usaha tersebut adalah Yani (38).

Menurut Yani, ayahnya sudah berdagang asinan sejak tahun 1960-an. Saat itu Mansur menjajakan asinan buatannya dengan keliling dari kampung ke kampung.

"Bapak awalnya dagang asinan pakai pikulan sampai ke Jatinegara, Pulogadung, dan sekitar Rawamangun. Tapi sekitar tahun 1970-an bapak memilih untuk berdagang di rumah ini," ujar Yani.

Ternyata justru pelanggan yang berdatangan, dan pembeli semakin banyak. Maka tersohor lah asinan ini. Hingga saat ini asinan kamboja masih laris manis diburu.

Awalnya H. Mansur hanya membuat asinan sayur. Namun karena banyaknya permintaan pelanggan agar Mansur membuat asinan buah, maka lahir lah asinan buah. "Saat ini kami menjual dua jenis asinan yaitu asinan sayur dan asinan buah," ujar Yani.

Sepintas, tidak ada yang istimewa dari asinan ini. Menurut Yani, racikan bumbunya sama saja dengan membuat asinan pada umumnya. Seluruh bahan utama, semisal kol, mentimun, toge, tahu, dan daun selada dipotong kecil-kecil kemudian dicampur dengan sambal kacang yang telah dicampur bumbu, gula, cuka dan cabe.

"Menurut para pelanggan kelebihan asinan buatan kami adalah sambalnya. Katanya sambal buatan kami kental karena banyak kacangnya. Selain itu rasa asam, asin, manis, dan pedasnya pas," ujar Yani yang juga mengaku bahwa setiap hari warungnya bisa menjual sekitar 200 bungkus asinan sayur dan 120 bungkus asinan buah.

Selain menjual asinan dalam bentuk bungkusan, Anda juga bisa  mencicipi asinan langsung di tempat. Untuk satu piring asinan sayuran harganya Rp 8.000, sementara untuk satu piring asinan buah harganya Rp 7.000. Warung asinan Haji Mansur tersebut buka setiap hari sejak pukul 09.00 hingga pukul 22.00.

Selama ini, kata Yani, pelanggan yang datang dan membeli asinan buatannya adalah warga Jakarta, Bekasi, dan Tangerang. Para pelanggan biasanya memadati warung pada jam makan siang.

Keliling Kampung

Sejak 1960 sampai 1970 an, H. Mansur menjajakan asinannya dengan dipikul berkeliling dari kampung ke kampung. Sekitar tahun 1980-an, H. Mansur memutuskan berhenti berkeliling jualan asinan.  Sebagai ganti, ia membuka warung asinan di rumahnya. Pembelinya kian hari kian bertambah.

Sampai sekarang, keluarga H. Mansur menangani sendiri penjualan asinan, tanpa bantuan orang luar. Mulai dari belanja bahan baku, penggilingan bumbu, sampai pelayanan dilakukan oleh anak H. Mansur yang berjumlah sembilan orang.

Saat pengunjungnya ramai, seperti hari libur, akhir pekan, atau bulan puasa, barisan cucu siap membantu. Kini keluarga itu saling berbagi tugas. Anak laki-laki bertugas belanja bahan ke pasar, menggoreng kacang, dan menggilingnya dengan cabai. Anak perempuan mengolah bumbu dan melayani pembeli. [ara/fu]






KOMENTAR ANDA

Kontak KamiTentang KamiDisclaimerLowongan
Copyright © 2011 design by fonda > www.jakartapress.com