top
channel
JAKNEWS | FEATURED | TERKINI
Jumat, 12 Agustus 2011 - 02:48

Jerit Zainuddin Diantara Tumpukan Keranjang Parcel


Jerit Zainuddin Diantara Tumpukan Keranjang Parcel

TERKAIT

Foto : denmas/jakpress

Jakartapress.com- Menjelang lebaran, kebutuhan yang cukup diburu masyarakat adalah bingkisan berupa barang atau lazim disebut parcel. Namun semenjak pemerintah menerbitkan larangan pemberian parcel, geliat jual beli parcel dari tahun ke tahun mengalami penurunan.

Dampak larangan itu benar-benar sangat dirasakan, khususnya oleh para penjual parcel.

Di Jakarta misalnya. Di kawasan Jalan Samali, Jakarta Selatan yang biasanya ramai dikunjungi pembeli parcel, kini jadi sepi. Beberapa pedagang malam memilih menutup usahanya.

Hal itu pula yang dirasakan penjual parcel di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Mereka menjerit. Rata-rata mengeluh dengan sepinya pembeli.

Untuk menyiasatinya, beberapa pedagang parcel di Cikini justru beralih menjual keranjang parcelnya saja.

“Sepinya minta ampun. Makanya, dengan menjual keranjang parcel kami berharap masih bisa bertahan. Sepertinya masyarakat takut untuk membeli parcel. Kecuali mereka adalah pembeli perorangan atau bukan dari instansi,” ungkap Zainuddin, pemilik Toko Setia Budi yang menjajakan keranjang parcel di Jl. Cikini Raya, Jakarta Pusat.

Dari usaha yang digeluti sejak lima tahun silam ini, Zainuddin mengaku sedikit mendapat angin.

“Lumayan, tiap hari masih saja ada yang membeli keranjang parcel. Mungkin perbandingannya, kalau keranjangnya laku 10, parcelnya hanya laku satu,” imbuh bapak enam anak kelahiran Brebes Jawa Tengah ini.

 

BERAGAM

Keranjang parcel yang ditawarkan Zainuddin beragam. Ada ukuran sedang, besar dan kecil. Bahannya pun berbeda-beda.

“Untuk keranjang parcel dengan bahan rotan saya jual antara Rp 2500-10000. Sedangkan yang sudah divernis mulai harga Rp 5000-15000,” ujar Zainuddin.

Keranjang-keranjang parcel tersebut tidak diproduksi sendiri. Zainuddin sengaja mendatangkan dari Jepara, sehingga kualitasnya terjamin.

Selain menjual keranjang parcel, pria yang membuka usaha dengan sistem sewa ini juga menjual bunga kering, vas dan pernak pernik untuk dekorasi parcel.

“Karena ada larangan, banyak pembeli memilih merangkai sendiri parcel tersebut. Makanya kami memenuhi keinginan mereka, dengan menjual berbagai macam peralatan untuk membuat parcel. Jadi pembeli tinggal merangkai di rumah,” imbuhnya.

 

MENGARAH KE SUAP

Aturan pelarangan parcel sendiri sudah diterapkan secara nasional mulai tahun 2010, berdasar Peraturan Pemerintah No. 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS), dengan alasan bahwa pemberian parcel dapat mengarah terhadap aksi suap dan penyalahgunaan uang negara.

Bahkan para pejabat pun kini juga dilarang untuk menerima parcel, dengan dalih bahwa parcel diperuntukkan bagi orang yang tidak mampu. Bukan untuk pejabat.

Fenomena ini makin membuat nasib para penjual parcel terpuruk. Belum lagi, persoalan modal juga mempengaruhi usaha mereka.

“Terus terang, kalau kami berdagang disini terbentur faktor modal. Bagaimana tidak, pembeli sepi, dagangan kurang laku tapi sewa tempat jalan terus. Jadi modal kami sedikit demi sedikit termakan untuk kebutuhan sehari-hari,” pungkas Zainuddin.  [noer]






KOMENTAR ANDA

Kontak KamiTentang KamiDisclaimerLowongan
Copyright © 2011 design by fonda > www.jakartapress.com

DMCA.com