
Jakartapress– Kehidupan di Pulau Pramuka memberikan nuansa lain, tidak ada angkot, tidak ada mal, dan tidak ada tawuran. Di sana ada keindahan dan pelestarian alam seperti penangkaran Penyu Sisik.
Pulau Pramuka merupakan pusat pemerintahan kabupaten administrasi Kepulauan Seribu. Dibutuhkan waktu 2,5 jam menyeberang laut dari Muara Angke menggunakan kapal transportasi yang berangkat setiap harinya pukul 07:00 dan 13:00. Tarifnya cuma Rp 30 ribu.
Karena keindahan alamnya pulau berpenduduk ini mulai kemudian menjadi daerah tujuan wisata. Jernihnya air laut yang biru, terumbu-terumbu karang yang indah dan pulau pasir putih di sekitar membuat setiap orang yang pernah datang ingin kembali lagi.
Pulau Pramuka memiliki fasilitas-fasilitas yang diperlukan warga atau wisatawan, seperti penginapan, rumah makan, rumah sakit, masjid dan lapangan olahraga. Di pulau ini juga ada penangkaran Penyu Sisik yang dikembangbiakan dan di rawat dalam satu area.
Wisatawan dapat menyentuh langsung penyu-penyu itu untuk mendapatkan wawasan mengenai penyu ini. Apabila penyu-penyu ini sudah cukup umurnya, mereka akan dilepaskan ke habitatnya di laut lepas.
Salah satu keistimewaan pulau ini adalah keramahan warganya yang sering membantu, menyapa dan murah senyum. Memang sudah menjadi kebiasaan penduduk sekitar untuk saling membantu sesama karena hubungan persaudaraan masih sangat dekat antara warga yang satu dan yang lain.
Objek wisata unggulan di pulai ini adalah gugusan terumbu karang yang tersebar di sekitar pulau. Dengan menggunakan baju pelampung, sepatu katak, masker dan snorkle wisatawan bisa melihat keindahan terumbu karang berwarna-warni secara langsung.
Menurut Sarip (56), dulu pulau ini kotor dan tak terurus. Kemudian beberapa rombongan pramuka datang ke pulau ini dan membersihkannya. Untuk menghormati jasa para pramuka itu akhirnya pulau ini dinamakan Pulau Pramuka.
Di penangkaran, penyu ditetaskan dari telur, kemudian ditangkarkan hingga cukup dewasa. Setelah dewasa, penyu-penyu ini kemudian dilepas lagi di laut.
Warna dan bentuk cangkang dari penyu ini unik, berbentuk seperti sisik yang bertumpuk teratur. Di bagian tepi sedikit tajam sehingga bila tidak hati-hati memegangnya, tangan bisa terluka.
Listrik di Pulau Pramuka masih menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), yang mengaliri seluruh rumah penduduk di pulau yang merupakan satu dari enam pulau berpenduduk di Kabupaten Adminstrasi Kapulauan Seribu Utara.
Jikapun listrik telah menyala di sore hari, masyarakat juga menghidupkan listrik seadanya, karena jika beban memenuhi kapasitas listrik makan lampu akan mati otomatis.
Menurut Kepala seksi pengelolaan Taman Nasional seksi I, Abdul Aziz Bakry, masyarakat belum menikmati listrik 24 jam karena listrik bawah laut yang diprogramkan pemerintah DKI Jakarta belum sampai ke wilayah Utara Pulau Seribu, Kab Pulau Seribu, Jakarta.
Kondisi ini menurut Aziz, karena jarak Pulau Pramuka cukup jauh yakni sekitar 50 mill dari Pantai Marina Ancol. Selain Pulau Kelapa ada tiga pulau lainnya yang berpenghuni yang masih menggunakan listrik bertenaga diesel, yakni pulau Panggang dan Karya.
Mayoritas penduduk di Pulau Pramuka berprofesi sebagai nelayan, ada juga yang bekerja sebagai pemiliki penginapan dan pedagang barang harian.
Alat trasnportasi warga berupa ojek tiga roda yang melintasi jalan kecil berpaving block. Sepeda motor roda tiga yang biasa digunakan untuk mengangkut barang yang dimodifikasi sehingga bisa digunakan untuk mengangkut penumpang.*ara