
Foto: Julian
Jakartapress - ‘Show Room’ itu sudah ada Sejak 34 tahun silam. Barang dagangannya, replika beragam moda transportasi Jakarta. Mulai Bajaj Merah, Bajaj Biru, Metromini sampai Busway Gandeng-nya TransJakarta.
Jika melintas di pertigaan Taman Makam Pahlawan Kalibata, dari arah Pancoran menuju Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kita akan jumpai beberapa kios penjual mainan replika angkutan umum seperti bajaj, truk, metro mini dan busway.
Salah satu kios itu milik Umar (63) yang sejak tahun 1977 sudah memulai usahanya di sana. Replika mobil kayu yang dipajang di kios semi permanen itu terbuat dari limbah kayu dan triplek. Modelnya terus berubah sesuai perubahan moda tranportasi umum di Jakarta. “Sekarang ada Bajaj Biru, Busway dan Kancil,” ujar ayah dari 4 anak ini.
Sekitar tahun 1970-an, Umar hanya memproduksi mainan seperti itu di Karawang. Beberapa temannya menjual di Jakarta. “Mereka ambil dari saya, terus dijual di Jatinegara dan Proyek Senen, kadang dibawa keliling pake pikulan,” cerita Umar yang kemudian buka kios kecil persis di sudut pagar Taman Makam Pahlawan, Kalibata.
Sudah lama Umar tidak membuat sendiri mainan kayu. Jika ada ide membuat model terbaru, Umar akan membuat pola dalam bentuk sketsa. Pola itu dikirin ke Karawang untuk diproduksi dalam jumlah banyak. “Bahan kayu dan tripleknya limbah, tapi cat, dempul dan paku kan harus baru,” ujarnya.
Replika mobil kayu ini masih mendapatkan tempat di masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Umar mengaku sekarang banyak orang tua yang membelikan replika mobil kayu supaya anak mereka bisa meniru dan menimbulkan sikap keratif.
Kecintaannya kepada anak-anak membuat Umar harus melakukan inovasi terhadap replika mobil kayu agar tetap diminati mengingat banyaknya produk mainan cina yang mendominasi pasaran.
Jika sebelumnya hanya sedikit model replika mobil yang dijual, sekarang sudah beragam, ada mobil tanki, kontainer hingga busway. Replika mobil kayu dibuat berdasarkan model kendaraan yang sedang trend namun ada juga yang membuat model kendaraan tempo dulu yang terlihat unik dan antik.
Inovasi juga dilakukan. Beberapa model pintunya bisa dibuka-tutup. Jika sebelumnya menggunakan roda dari kayu, kini rodanya terbuat dari plastik atau karet. “Roda kayu, kalau dimainin berisik,” ungkap Umar.
Untuk melego dagangannya, Umar mematok harga mulai Rp 40 ribu dampai Rp 400 ribu, tergantung model dan detilnya. Menurut pria paruh baya ini, mutu mainan kayu sekarang tidak sebaik yang pernah dibuat pada tahun awal sampai dengan pertengahan 90-an.
Cindera Mata
Dulu, mainan-mainan itu dibuat dengan tingkat kemiripan yang lebih tinggi misalnya dengan memberi detil-detil seperti tempat duduk dan setir, atau lukisan dan cat yang lebih detil. Jika mainan KW-1 tersebut mau dipertahankan, maka harga jualnya akan tinggi, sehingga tidak lagi mampu bersaing dengan mainan pabrik atau dari Cina.
Umar merasa, harga relatif lebih murah yang ditawarkan menjadi salah satu dirinya masih eksis sebagai pemilik ‘showroom’ mobil kayu. “Coba kalau kita lihat mobil-mobilan sekarang, yang kecil aja bisa sampai tiga ratus ribu,” katanya.
Meski murah dan terkean kuno, namun pembelinya tidak hanya berasal dari kalangan menengah ke bawah, tidak jarang orang yang bermobil mewah pun juga ingin memilikinya. Bahkan turis asing pernah datang beberapa kali memborong mobil-mobilan kayu itu.
Turis tersebut tertarik dengan replika Bajaj dan Metromini yang tidak akan dijumpai di negaranya. Kebanyakan turis itu membeli dalam jumlah untuk dibawa ke negara asalnya sebagai cindera mata.
Selain replika mobil kayu, Umar juga menjual kincir angin tradisional berornamen karakter Petruk dan Gareng yang seolah-oleh sedang memutar kincir itu jika angin bertiup. Karakter itu bisa diganti sesuai pesanan.
Umar tidak bisa memastikan sampai kapan bisa bertahan hidup dari mainan replika ini di tengah derasnya ‘jajahan’ mainan dari Cina. Menurutnya sejak lima tahun belakangan, omzetnya terus merosot. “Saya sih sudah tua, kalau ada yang mau meneruskan silahkan saja,” ujar Umar menutup obrolan.*jul