top
channel

Undur-undur ‘Si Monster’ Manjur


Undur-undur ‘Si Monster’ Manjur

TERKAIT

 

Jakartapress.com – Meski belum ada pengakuan ilmiah, namun banyak orang percaya jika undur-undur bisa turunkan gula darah alias diabetes. Kenyataan itu dijadikan peluang bisnis oleh Jupri yang sejak lima tahun lalu berdagang undur-undur.

Nama latinnya Myrmeleon Sp, dilihat melalui kaca pembesar, wujudnya seram seperti monster. Kita mengenalnya dengan sebutan Undur-undur, larva kecil yang dipercaya bisa menyembuhkan diabetes dan penyakit lain. Kini hewan anti air itu dibudidaya dan  diperjual belikan secara online.

Jika singgah di Pasar Burung, Jalan Bekasi Barat, Jatingera, Jakarta Timur, kita jumpai beberapa pedagang Undur-undur, salah satunya Jupri. Pria paruh baya yang mangkal di halte bis depan SMPN 14 ini menjual eceran dan partai besar. “Saya punya stok banyak, kalau kurang nanti ada yang setor,” ujarnya.

Untuk menarik pembeli, Jupri yang sudah mangkal di sana sejak lima tahun silam itu sengaja pasang papan nama relatif besar. “Kalau nggak ada tulisan gede begini, orang nggak tahu saya dagang apa. Yang dijualkan kecil-kecil, ngumpet lagi dipasir,” kelakarnya.

Promosi Jupri, Undur-undur dapat menyembuhkan penyakit diabetes, darah tinggi, stroke, sesak napas, reumatik, sakit kuning, pegel linu, dan lainnya. “Untuk menjaga stamina juga biar sehat dan fit terus. Nih baca brosurnya,” papar Jupri seraya menyodorkan fotokopian brosur.

Harga seekor Undur-undur di sana berkisar antara Rp800,- sampai Rp1000,-. Jika beli dalam jumlah besar, harga bisa lebih murah. “Kalau belinya diatas 50 ekor, nanti saya diskon lagi deh,” ujar Jupri yang juga menjual obat herbal lain seperti Sarang Semut dari Papua.

Meskipun bentuknya kecil dan lunak, Undur-undur sulit ditangkap. Hewan ini tinggal di dalam pasir yang dibentuk seperti kawah gunung “Kalau musim hujan, jarang ada, biasanya di pasir samping rumah, teras, pesisir. Banyak yang kirim dari Jawa Tengah,” ungkap Jupri.

Selama ini, selain mengandalkan kiriman pengepul dari Jawa Tengah, Jupri mengaku suka ‘berburu’ Undur-undur sendiri. Dia mendatangi rumah-rumah yang halamannya berpasir atau ke Tempat Pemakaman Umum (TPU). “Biasanya di rumah kosong atau dekat kuburan yang tanahnya kering dan berpasir,” ujarnya.

Jika over stoknya, Jupri  terpaksa harus merawat ratusan bahkan ribuan Undur-undur itu di rumahnya. Dia gunakan akuarium atau wadah plastik  yang diisi pasir halus. Sebagai pakannya, Jupri memberi semut kecil atau susu bubuk. “Ditaburi susu sedikit di atas pasirnya, pasti habis dimakan,” cerita Jupri.

Menurut Jupri, agar tidak over dosis, mengkonsumsi Undur-undur harus disesuaikan dengan jenis kelamin, umur, jenis penyakit dan stadium penyakit. Jika untuk menjaga stamina, cukup dengan satu kapsul sehari yang berisi tiga undur-undur.

Warisan Tiongkok

Kebiasaan mengkonsumsi Undur-undur sebagai obat diabetes rupanya sudah berlangsung lama di Tiongkok. Orang-orang Tiongkok biasanya mencampur beberapa Undur-undur dan bahan herbal ke dalam kapsul.

Semula Undur-undur yang dalam bahasa Mandarin dikenal dengan sebutan Diguniu yang sudah dikemas dalam kapsul kurang diminati. Baru sekitar lima tahun silam, justru Undur-undur hidup malah diburu dan diminati. Kondisi itu tidak lepas dari peran media, terutama media internet.

Undur-undur atau dalam bahasa Inggris disebut Antlion adalah kelompok binatang holometabola, yaitu serangga yang mengalami metamorfosis sempurna. Tahapan dari daur serangga yang mengalami metamorfosis sempurna adalah telur, larva, pupa, dan imago. Dilihat dengan kaca pembesar, bentuknya memang menyeramkan, mirip monster.

Secara medis, kepercayaan sebagian masyarakat tentang Undur-undur sebagai obat diabetes memang belum bisa dibuktikan. Sebab itu, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Aru W. Sudoyo, tidak berani merekomendasikan undur-undur sebagai obat diabetes.

Namun menurut Dr. Huang Lie Ying, seorang sinshe dari Gubeng, Surabaya, Diginiu memang sudah lama digunakan di Tiongkok sebagai obat diabetes. ”Namun, penelitian klinis dan pemakaiannya secara klinis di Tiongkok belum ada,” ungkap Huang.

Tyas Kurniasih, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta pernah membuat tesis berjudul Kajian Potensi Undur-Undur Darat. kesimpulannya, binatang ini mengandung zat sulfonylurea yang dapat melancarkan kerja pankreas dalam memproduksi insulin.

Karena, ketika insulin dalam tubuh manusia menurun sementara kadar glukosa darah meningkat, maka terjadi ketidakseimbangan. Jika insulin sebagai penghasil energi tubuh terus berkurang, tubuh mudah terserang penyakit.

Darmansyah (55), salah seorang pelanggan Jupri mengakui keajaiban makhluk kecil itu. Pensiunan Departemen Perhubungan ini merasa sudah bisa mengendalikan kadar gula darahnya dengan mengkonsumsi Undur-undur.

Warga Klender, Jakarta Timur ini awalnya mengidap diabetes dengan kadar gula darah mencapai 300 mg/dl. Namun, setelah rutin menelan undur-undur, gula darahnya turun menjadi 140 mg/dl.

Awalnya dia minum sehari dua kali dengan cara ditelan. Sekali telan langsung tiga ekor. Karena, kadar gula darahnya sudah turun, konsumsi undur-undurnya berkurang menjadi tiga ekor sehari. “Jika terlalu banyak badan jadi panas,” kisah Darmansyah.

Dijual Online

Sekitar lima tahun silam, Suganda, warga Desa Suranenggala, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, sudah membudidayakan Undur-undur. Dia tertarik mengembangbiakan hewan yang biasa hidup di pasir kering dan berjalan mundur ini setelah tahu khasiatnya.

Cara beternak undur-undur relatif mudah. Cukup menyediakan kotak berisi pasir kering, lembut dan beberapa ekor bibit undur-undur. Suganda menempatkan ‘ternak’nya itu di dalam kotak dari stereofoam atau kotak kayu.

Hanya dalam waktu satu minggu, Undur-undur akan menetaskan telur disarangnya yang mirip kawah gunung. Untuk pangannya, undur-undur hanya membutuhkan serangga kecil seperti semut atau telur semut herang. Kadang diberi susu bubuk. Undur-undur pantang kena air, dan setiap pagi wajib dijemur sekitar dua jam.

Selain Jupri dan beberapa rekan seprofesi yang mangkal di kawasan Jatinegara, plus Suganda yang membudidayakannya, masih banyak orang menggantungkan hidup dari Undur-undur. Bahkan,  Undur-undur pun sudah dibisniskan lewat internet, alias bisa transaksi secara online.

Seperti yang dilakukan Okman yang menawarkan Undur-undur seharga Rp1000,- perekor. Okman hanya melayani pembelian dalam satu paket minimal 100 ekor plus bonus 25 ekor. Menurutnya, jika beli dalam partai besar, harganya masih bisa ‘digoyang’ lagi alias lebih murah.

Dengan moto “kirim dulu baru bayar” Okman melayani pembeli dari berbagai daerah hingga negeri jiran. Umumnya mereka adalah pemakai, bukan pedagang. “Awalnya mereka hanya coba-coba, setelah merasakan kemanjurannya, mereka menjadi langganan,” papar Okman.

Testimoni orang yang pernah merasakan langsung pasti lebih ‘mujarab’ sebagai media promosi ketimbang beriklan.  Begitu juga dengaj booming Undur-undur ini lantaran pengakuan dari mereka yang sudah tertolong setelah mengkonsumi makhluk kecil itu. [ara/fu]






KOMENTAR ANDA

Kontak KamiTentang KamiDisclaimerLowongan
Copyright © 2011 design by fonda > www.jakartapress.com