
Jakartapress.com Meskipun kontroversi tentang sosok Pangeran Jayakarta masih berlanjut, tempat keramat yang diyakini sebagai makam Pangeran Jayakarta tetapi ramai dikunjungi peziarah. Kabarnya, banyak pejabat Jakarta ziarah kesana agar ‘langgeng’ dan ‘aman’.
Tidak semua warga Jakarta tahu ada Kompleks Makam Pangeran Jayakarta di Jalan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Di lahan yang lumayan luas di sisi jalan itu terdapat bangunan Masjid Jami' Assalafiyah yang dibangun oleh Pangeran Jayakarta.
Selain masjid, di kompleks cagar budaya ini terdapat banyak makam tua dan pohon intan atau pohon kresek yang berusia ratusan tahun berdiameter 19. Pohon raksasa itu seolah menjadi saksi bisu perjuangan sang pangeran melawan Belanda.
Menurut cerita, sejak Pangeran Jayakarta wafat, makamnya ini disembunyikan dari publikasi. Sebab, jika pihak Belanda mengetahuinya, mereka akan mengancurkan dan meratakan makam itu dengan tanah. Belanda yang saat itu dipimpin Jan Pieterszoon Coen sangat benci pahlawan ini karena merasa diperdaya.
Maman (60), juru kunci makam itu dengan senang hati akan berkisah tentang perjuangan dan jasa-jasa sang pangeran. Pria paruh baya ini juga sering mengingatkan agar para peziarah bersikap sopan dan menjaga keberishan lingkungan makam.
Seperti ditempat peziarahan lain, di kompleks inipun peziarah tidak diizinkan memotret tanpa seizin Maman. Menurutnya, untuk melakukan sesuatu harus izin dulu kepada ‘penunggu’nya. "Boleh motret, asal mohon ijin dulu kepada yang 'punya', dan jaga sopan santun. Saya takutnya nanti ada apa-apa," ujarnya.
Sambil mengitari areal makam, Maman menceritakan beberapa kejadian aneh yang menimpa peziarah yang ‘melanggar’ aturan tidak tertulis itu. Salah satunya, ada peziarah yang linglung, dia berjalan kearah sungai di belakang dan menceburkan dirinya. “Untung ada yang lihat dan nolongin,” kenang Maman.
Biasanya, di malam Jumat, makam ini ramai dikunjungi peziarah bahkan dari luar Jakarta seperti Banten, Cirebon, Sukabumi, Karawang, dan Jawa Tengah. Selain malam Jumat, makam ini juga ramai dikunjungi pada haul yang dilaksanakan sehari setelah maulid Nabi SAW dan sehari sebelum ulang tahun Jakarta dan ulang tahun Kodam Jaya yang juga mengambil nama Jayakarta.
Maman berkisah, beberapa peninggalan sejarah masjid ini banyak yang hilang. Hanya empat tiang penyangga dan sebuah kaligrafi Arab berbentuk sarang tawon di dalam plafon menara masjid yang tersisa.
Selain bangunannya relatif luas, penampilannya pun terkesan mewah dengan keramik dan marmer menutupi hampir seluruh dindingnya. Tampaknya ukuran asli masjid itu hanya seluas empat pilar dengan selasar sepanjang 5 meter di setiap sisinya.
Menurut catatan sejarah, Pangeran Jayakarta adalah bangsawan Banten yang masih ada hubungan dengan Ratu Bagus Angke dan Fatahillah. Dialah yang meresmikan nama Jayakarta atau Jayakerta pada 22 Juni 1527.
Sekitar bulan Mei 1619 di kawasan Mangga Dua, pasukan Pangeran Jayakarta, melakukan kontak senjata dengan tentara Jan Pietersen Coen. Pasukan Pangeran Jayakarta terdesak dan terkepung dari dari arah Senen, Pelabuhan Sunda Kelapa dan Tanjung Priok.
Karena terjepit, pasukan Pangeran Jayakarta mundur ke timur hingga ke Sunter, lalu ke selatan. Sambil terus bergerak ke selatan, ketika itu Pangeran Jayakarta membuang jubahnya ke sebuah sumur tua.
Pihak Belanda mengira musuh bebuyutannya itu telah tewas di dalam sumur sehingga menghentikan pengejaran. Sementara Pangeran Jayakarta pasukannya meneruskan perjalanan ke selatan hinggg masuk hutan jati yang lebat. Mereka menetap disana sehingga muncul perkampungan dengan nama Jatinegara.
Tahun 1620, Pangeran Jayakarta membangun masjid yang juga digunakan untuk menggalang kekuatan. Berpuluh-puluh tokoh masyarakat dan jawara serta ulama sering berkumpul di masjid ini menyusun strategi perjuangan dan dakwah Islam.
Sekitar tahun 1700 Pangeran Sugeri, putera Sultan Fatah dari Banten, memugar masjid. Pangeran Jayakarta dan Pangeran Sugeri kemudian dimakamkan di komplek masjid bertiang penyangga jati ini.
Menurut beberapa tokoh Betawi, makam itu bukan pusara Pangeran Jayakarta, tetapi makam Mas Ahmat, orang Cirebon yang dijadikan bupati oleh VOC pada akhir abad 18. terlepas dari kontroversi itu, pastinya makam itu diyakini bisa memuluskan jalan seseorang yang ingin menjadi pejabat.
Cerita Maman, menjelang pemilu legsilatif lalu, banyak calon anggota DPRD DKI Jakarta berziarah kesana. “Mungkin ada yang jadi, ada juga yang gagal, saya nggak hafal orang-orangnya,” ungkap Maman.
Pengakuan Maman dibenarkan beberapa warga sekitar yang sudah maklum jika melihat mobil mewah dan keluaran terbaru diparkir di sisi jalan. Biasanya yang datang orang penting atau pengusaha.*fu